Kepala Dinkes Jatim Dr Erwin Astha Triyono mengatakan, secara umum ISPA dikeluhkan warga usia dewasa. Meski demikian, pihaknya mengaku masih terus mengumpulkan data pasti di lapangan. “Data pastinya masih dalam pengelompokan, tapi secara umum yang menderita ISPA usia dewasa,” ujarnya di Surabaya, Rabu (8/12).
Selain ISPA, para pengungsi juga terpapar sejumlah penyakit seperti Cephalgia (pusing-pusing), Myalgia (nyeri otot), dan dermatitis (penyakit kulit/gatal-gatal). Persentase pengungsi yang mengeluhkan tiga penyakit itu juga cukup tinggi.
Pemprov Jatim melalui dinkes telah melakukan beberapa upaya. Di antaranya, berkoordinasi serta mengupayakan pemenuhan kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP) serta tenaga kesehatan hingga distribusi di wilayah terdampak. Juga bekerja sama dengan organisasi relawan untuk melakukan pendampingan psikosial kepada masyarakat terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi akibat erupsi Semeru mencapai 4.250 orang. Jumlah ini tersebar pada 19 titik pengungsian. Seperti sekolah, masjid, balai desa, termasuk rumah-rumah penduduk.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta para relawan untuk ikut membantu melakukan pemetaan terkait berbagai permasalahan untuk meningkatkan kualitas layanan pengungsi. Terutama pengungsi yang masuk kategori ibu hamil, difabel, anak kecil, dan lansia.
Dia berharap, masa tanggap darurat selama 14 hari dapat mengatasi segala persoalan terkait pengungsian. Salah satunya tempat hunian sementara dapat segera terealisasikan. “Sebab, masih terdapat beberapa lokasi dengan kategori rawan bencana dan berisiko tinggi agar sementara tidak ditinggali,” jelasnya.
Khofifah mengatakan, dalam kondisi seperti ini harus ada opsi hunian sementara untuk memberikan tempat bernaung dan berlindung lebih aman. Ini karena tinggal di pengungsian tidak boleh terlalu lama. “Tidur bersama banyak orang yang tidak saling kenal tentu butuh adaptasi khusus. Ada yang mengambil posisi tidur di luar gedung tempat pengungsian. Bila berhari-hari dengan cuaca dingin, bahkan hujan seperti saat ini, maka kondisi badan mereka bisa drop,” ungkapnya.
Gubernur juga meminta para relawan untuk membantu pendataan pengungsi yang belum divaksinasi Covid-19. Sebab, masih ada pengungsi yang belum divaksin Covid-19. Data tersebut dapat diteruskan ke Dinas Kesehatan Jatim. Selanjutnya, berkoordinasi dengan Dinkes Lumajang, Biddokkes Polda Jatim, dan Kodam V Brawijaya. “Supaya mereka terlindungi karena situasi pandemi Covid-19 belum aman,” katanya.
Selain dari sisi medis, gubernur pun berharap para relawan membantu pemulihan secara psikologis. Saat ini para pengungsi lebih banyak mengeluhkan soal psikis dibanding kesehatan fisik. “Kami berharap teman-teman relawan dapat mengisi dengan kegiatan spiritual, salah satunya mengajak para pengungsi shalawatan. Tentunya ini akan memberikan penguatan spiritual dan motivasi bagi para pengungsi dalam melewati masa-masa sulit ini,” katanya.
Gubernur berharap ada kanal atau saluran yang bisa menampung berbagai masukan dan informasi dari para relawan untuk berinteraksi dengan satgas dan pengambil keputusan agar bisa melakukan respons cepat. Baik melalui call center maupun WhatsApp Group (WAG). (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek