"Kami juga telah melakukan koordinasi secara internal dengan Kementerian Tenaga Kerja dan pihak Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur Himawan Estu Bagijo di Surabaya, Senin (1/11).
Menurut dia, pemrov juga terus memantau kondisi para ABK. Termasuk berkomunikasi dengan salah satu ABK untuk menanyakan permasalahan yang sebenarnya. Himawan mengaku telah mendapatkan informasi bahwa semua ABK dalam kondisi stabil.
Di pihak lain, Disnakertrans Kota Batu ikut melakukan investigasi untuk mengungkap kebenaran informasi yang beredar dengan mendatangi kediaman para ABK. "Semoga ada bantuan dari berbagai pihak dalam proses penanganan kepulangan kru kapal tersebut," kata Himawan.
Sebelumnya, Kapal MV Voyanger berangkat dari Bali menuju Guam dengan tujuan pengiriman kapal untuk dijual. Sampai di tujuan, ternyata tidak ada pembeli. Pemilik kapal berada di Kanada. Berhubung tidak ada yang membeli, owner tidak bisa membayar gaji dan tidak bisa memulangkan kru.
Sudah lima bulan lebih kru tidak digaji. Para ABK sempat menghubungi KJRI di Los Angels sejak tiga bulan lalu, tapi belum mendapatkan bantuan. Sembilan awak kapal itu Ali Akbar Cholid (27) asal Kota Batu, Agus Brigrianto (54) asal Kota Batu, Bambang Suparman (56) asal Kota Malang, Gunawan Soeharto (54) asal Kota Malang, Dicky Wahyu (25) asal Kota Malang, dan Fajar Nur (30) asal Kabupaten Malang.
Selain itu, Fery Sujatmiko (50) asal Blitar, Yusman Shobirin (54) asal Sidoarjo, dan Muhamad Khafid (26) asal Lumajang. Salah satu ABK Ali Akbar Cholid adalah warga Jalan Pandeman, Kelurahan Sisir, Kota Batu mengatakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka mengandalkan bantuan dari agensi. Para ABK dilarang menyentuh daratan, sehingga terpaksa hidup di atas kapal.
"Kami tak bisa pulang karena tidak ada uang. Gaji juga tak diberi. Makan saja mengandalkan pemberian agensi yang ada di pelabuhan sini," ungkapnya.
Ali Akbar menyampaikan, kondisi mereka cukup sulit dan hanya bisa berdiam diri di atas kapal menunggu kejelasan nasib. Mereka sudah melapor ke KJRI yang berada di Los Angels karena Guam termasuk wilayah Amerika Serikat. Ali berharap bisa segera pulang ke tanah air. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek