Kota Surabaya punya banyak sisi menarik. Selain perjuangan Arek-Arek Suroboyo yang heroik, keberadaan pasar-pasar pada masa Hindia Belanda pun sangat menarik. Salah satunya Pasar Genteng.
Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya
PASAR lawas yang terletak di kawasan Kecamatan Genteng tersebut memiliki keunikan tersendiri. Bahkan, orang Surabaya sendiri pun belum tentu tahu sejarah pasar tradisional yang terletak di tengah Kota Pahlawan itu.
Pasar Genteng merupakan salah satu pasar tertua di Kota Surabaya yang dibangun pada 1910. Berawal dari pasar krempyeng, Pasar Genteng ini dahulu hanya buka pada pukul 06.00 hingga 09.00.
Budayawan sekaligus penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe Dukut Imam Widodo mengatakan bahwa zaman dahulu pasar tersebut tidak berada di perempatan Jalan Genteng. “Dulu itu bukanya hanya sampai jam sembilan, setelah itu tutup. Padahal, pasar itu cukup ramai sejak zaman dulu,” kata Dukut saat ditemui di kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Kamis (4/7).
Seperti pasar-pasar umumnya, Pasar Genteng menjual kebutuhan bahan pokok sehari-hari seperti sayur, beras, jagung, dan rempah-rempah. Kebanyakan yang berdagang di pasar tersebut adalah warga kawasan Kecamatan Genteng. Namun, lama-kelamaan banyak pendatang yang turut menjajakan dagangannya di Pasar Genteng.
“Nah, dengan terbentuknya pasar tersebut, lama-lama banyak orang dari luar Surabaya datang berjualan. Ada orang Madura juga berdagang di sana,” jelas Dukut. (*/rek/bersambung)
Editor : Administrator