Jika diamati secara detail, banyak yang unik di pabrik Kasa Husada. Khususnya bagian eksterior bangunan utamanya. Pemandangan itu terlihat di pintu gerbang utama pabrik. Sebab, pintu gerbang tersebut dibuat dengan bahan kayu jati setebal 15 sentimeter. Uniknya, gerbang tersebut dihias dengan ukiran khas eropa.
Yuan Abadi-Wartawan Radar Surabaya
Pintu gerbang tersebut memiliki tinggi dua meter dan lebar tiga meter. Pintu itu berdiri tepat di salah situ lorong pabrik. Gerbang ini memiliki dua bagian yang bisa dibuka dan ditutup. Gerbang setebal 15 sentimeter tersebut ditopang oleh empat engsel ya terpaut di bagian lorong. Tak lupa sebuah pegangan pintu yang cukup besar dipasang di bagian belakang gerbang tersebut.
Jika diamati lebih detail, gerbang yang terbuat dari kayu jati memiliki keunikan tersendiri. Sebab, terdapat ukiran dengan kombinasi lingkaran dan kotak-kotak. Selain ukiran, adanya paku-paku dengan ujung tumpul berukuran jumbo terlihat di tepi pintu. Semuanya masih terawat dan kuat.
Dari kejahuan, pintu gerbang tersebut memang sudah terlihat kokoh. Kekuatan gerbang tersebut terlihat dari ketebalan pintu tersebut. Meski pintu dibuat tinggi dan lebar, namun tidak ada sambungan pada pintu gerbang tersebut. Pintu seperti dibuat dengan menggunakan kayu yang utuh.
Humas Pabrik Kasa Husada Sutrisno mengatakan, selama bekerja 10 tahun bekerja di pabrik, dirinya juga tak menemukan ada sambungan dalam kayu yang digunakan untuk pintu gerbang. Hal itu ia amati saat melakukan pengecetan ulang pada pintu gerbang itu.
"Kemungkinan memang benar tidak ada (sambungan). Sebab sebelum di cat, biasanya kayu dikerik terlebih dahulu untuk menghilangkan cat yang lama. Semuanya terlihat seperti kayu utuh," ungkapnya.
Dia menambahkan, jikapun ada sambungan, tentu ada paku yang ditancapkan pada sambungan kayu itu. Namun ia tak menemukan itu. Menurut Sutrisno, kemungkinan gerbang dibuat dengan kayu utuh benar, sebab pada saat itu masih banyak hutan jati dan kayu berdiameter besar.
"Bisa saja itu kayu besar, kemudian hanya dihilangkan kulitnya saja lalu dihaluskan sebelum dijadikan pintu gerbang," terangnya.
Saat ditanya umur gerbang tersebut, Sutrisno mengaku tak tahu pasti. Apakah digunakan bersaamaan dengan pabrik atau setelah pabrik beroperasi. Namun berdasarkan cerita dari para pendahulunya (para karyawan senior) jika gerbang tersebut dibuat sudah sejak lama.
"Kemungkinan umurnya sudah mencapai setengah abad," terangnya.
Sutrisno menambahkan, karena gerbang tersebut bagian dari cagar budaya, maka pihaknya terus merawatnya. Manajemen tak pernah mengotak-atik gerbang tersebut, kecuali pengecatan saja, sebab meski kayunya kuat namun catnya mudah sekali luntur terkena panas dan ujan.
"Hampir setiap setahun sekali kami melakukan pengecetan," tandasnya. (bersambung/nur)
Editor : Administrator