The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin, Jadi 3,75-4 Persen

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 02:55 WIB
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berjanji untuk mengatasi inflasi.(Rod Lamkey/AP Photo/dpa/picture alliance).
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berjanji untuk mengatasi inflasi.(Rod Lamkey/AP Photo/dpa/picture alliance).

RADAR SURABAYA – Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. 

Kebijakan tersebut ditempuh untuk mengatasi inflasi Amerika Serikat yang masih berada pada level tinggi.

Kenaikan suku bunga The Fed ini menjadi yang pertama dalam tiga tahun. 

Kebijakan tersebut dilakukan ketika perekonomian Amerika Serikat menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari tarif impor hingga kenaikan biaya energi dan tingginya belanja modal akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan stabilitas harga menjadi fokus utama bank sentral Amerika Serikat.

Menurut dia, inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Baca Juga: Pembiayaan Ultra Mikro Bawa Perubahan, Kisah Mawiyah Perbaiki Ekonomi Keluarga di Sepaku

"Fokus utama kami adalah menjaga stabilitas harga sebagai bagian dari mandat kami. Faktanya, inflasi masih terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," kata Warsh dalam konferensi pers.

Warsh menegaskan kebijakan kenaikan suku bunga tersebut diambil secara independen berdasarkan penilaian The Fed terhadap kondisi perekonomian dan pasar.

"Kami mengambil keputusan hari ini berdasarkan penilaian kami terhadap situasi yang ada," ujarnya.

Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed

Kenaikan suku bunga The Fed akan berdampak terhadap masyarakat yang mengandalkan pinjaman untuk pembelian bernilai besar, seperti rumah, mobil, dan peralatan rumah tangga.

Masyarakat yang masih memiliki utang kartu kredit berbunga juga berpotensi menghadapi kenaikan pembayaran bulanan dan biaya bunga.

Meski demikian, dampak kenaikan biaya pinjaman dalam jangka pendek diperkirakan belum terlalu terasa bagi banyak rumah tangga.

Hal ini karena pembayaran utang rumah tangga secara keseluruhan masih relatif rendah dibandingkan pendapatan setelah pajak.

Sebaliknya, masyarakat yang memiliki simpanan dapat memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga.

Suku bunga rekening tabungan dan sertifikat deposito berpotensi meningkat seiring dengan kebijakan The Fed tersebut.

Baca Juga: Ini Hasil Drawing 16 Tim Peserta Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 7 Surabaya

Tekanan dari Kebijakan Trump

Kebijakan kenaikan suku bunga The Fed juga berlangsung di tengah perbedaan pandangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump sebelumnya menyerukan suku bunga yang lebih rendah. Dalam kampanye pemilihan presiden 2024, dia juga berjanji menurunkan harga-harga.

Namun, setelah Trump kembali menjabat, perekonomian Amerika Serikat menghadapi sejumlah tekanan.

Tarif impor global, guncangan energi setelah perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, serta peningkatan belanja modal yang didorong perkembangan AI menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi.

Warsh menegaskan pentingnya independensi The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.

"Bagian dari independensi Federal Reserve adalah kami tetap berada dalam jalur kewenangan kami," katanya.

Baca Juga: Peserta Bahlil Mini Soccer Zona 7 Surabaya Siap Tampil Maksimal

Menurut Warsh, pihak yang menangani kebijakan perdagangan dan fiskal juga perlu menjalankan kewenangan masing-masing.

Dengan demikian, The Fed dapat menentukan kebijakan berdasarkan penilaiannya terhadap kondisi ekonomi.

Kenaikan 25 basis poin tersebut membawa target suku bunga The Fed ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. 

Kebijakan itu diharapkan mendukung kembalinya inflasi Amerika Serikat menuju target 2 persen secara lebih tepat waktu.(rak) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : DW NEWS
The Fed Suku Bunga The Fed Federal Reserve Inflasi Amerika Serikat Ekonomi Amerika Serikat