RADAR SURABAYA - Praktik perdagangan ilegal daging kucing di kawasan Indochina masih menjadi perhatian serius kelompok pemerhati kesejahteraan hewan. Kepercayaan lama yang mengaitkan konsumsi daging kucing dengan keberuntungan serta khasiat pengobatan disebut menjadi pemicu utama tingginya permintaan.
Organisasi kesejahteraan hewan global FOUR PAWS memperkirakan, di Vietnam saja sekitar satu juta kucing dibunuh setiap tahun untuk memenuhi pasar perdagangan daging kucing. Jumlah lebih kecil juga ditemukan di wilayah terpencil Kamboja dan Laos.
Banyak kucing yang diperdagangkan berasal dari pencurian hewan peliharaan maupun penangkapan kucing liar di jalanan. Hewan-hewan itu kemudian diperjualbelikan sebelum akhirnya disembelih.
Baca Juga: Malu Suami Punya Banyak Utang, Ibunya Jadi Korban, Ujungnya ke PA Surabaya
Jon Rosen Bennett dari FOUR PAWS menjelaskan, konsumsi daging kucing umumnya bukan karena kebutuhan pangan pokok, melainkan lebih didorong faktor budaya, tradisi, dan kebiasaan sosial.
Menurut Bennett, di sejumlah wilayah Asia Tenggara, daging kucing secara historis kerap dikaitkan dengan kepercayaan mengenai keberuntungan. Di Vietnam, sebagian masyarakat masih percaya mengonsumsi daging kucing pada waktu tertentu dalam kalender lunar dapat membawa hoki atau membantu menghapus nasib buruk.
Selain faktor keberuntungan, sebagian konsumen juga meyakini daging kucing memiliki manfaat kesehatan atau khasiat pengobatan tertentu. Meski pemerintah dan aktivis internasional telah menjalankan kampanye kesadaran selama puluhan tahun, praktik tersebut masih berlangsung.
Kasus terbaru terungkap pekan lalu di Kota Ho Chi Minh. Polisi setempat membongkar sindikat penyelundupan kucing antardaerah dan menyelamatkan sekitar 500 ekor kucing. Sebanyak sembilan anggota kelompok tersebut ditangkap karena diduga terlibat dalam aksi pencurian dan penjualan kucing selama tiga tahun terakhir.
Hingga kini, belum ada larangan nasional di Vietnam yang secara khusus melarang penyembelihan, penjualan, maupun konsumsi daging kucing.
Namun demikian, Bennett menegaskan mayoritas masyarakat di kawasan itu sebenarnya tidak mengonsumsi daging kucing. Di Vietnam, hampir 90 persen warga disebut mendukung pelarangan perdagangan daging anjing dan kucing.
Lebih dari 90 persen responden juga menyatakan perdagangan daging kucing bukan bagian dari budaya Vietnam modern.
Fenomena ini menunjukkan benturan antara tradisi lama, mitos yang masih bertahan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu perlindungan hewan di kawasan Asia Tenggara. (*)
Editor : Lambertus Hurek