Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bandara Internasional di Kinshasa Kongo Mirip Kebun Singkong, Listrik Sering Mati

Lambertus Hurek • Jumat, 19 Juni 2026 | 03:29 WIB

 

Bandara Internasional Kinshasa, Kongo, masih sederhana. (IST)
Bandara Internasional Kinshasa, Kongo, masih sederhana. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Bagi banyak orang, bandara internasional identik dengan gedung megah, pendingin ruangan dingin, Wi-Fi kencang, dan pelayanan serba otomatis. Namun kesan berbeda justru dirasakan Pater Nus Narek SVD asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Internasional Djili Kinshasa, Kongo.

Bandara terbesar di negara tempatnya kini berkarya itu justru meninggalkan cerita yang tidak akan pernah ia lupakan. Cerita tentang perjalanan panjang, bahasa yang asing, listrik yang mati hidup, hingga menyewa HP senter lima dolar demi mencari penjemput.

Baca Juga: Prediksi Meksiko vs Korea Selatan: Perebutan Puncak Grup A Piala Dunia 2026

“Hampir 48 jam kami dalam perjalanan. Dari Jakarta, transit di Qatar, lanjut Kenya, lalu baru tiba di Kinshasa,” kenang Pater Nus.

Hari itu, 27 Mei 2022, menjadi momen penting dalam hidupnya. Bersama Pater Carlos Gaba, ia tiba di ibu kota Kongo sekitar pukul 10 pagi. Tubuh lelah, mata berat, tetapi rasa penasaran jauh lebih besar. Semuanya benar-benar baru. Terutama bahasa.

“Kami tidak punya satu kosa kata pun bahasa Perancis dan Lingala,” ujarnya.

Padahal dua bahasa itulah yang paling banyak dipakai warga Kinshasa. Akibatnya, hampir semua pertanyaan dari petugas bandara dijawab dengan anggukan kepala.

“Pokoknya orang tanya apa saja, kami cuma mengangguk saja,” katanya.

Baca Juga: Bangun Kolaborasi Positif, Crown Prince Hotel Kunjungi Radar Surabaya

Belum selesai rasa gugup karena bahasa, masalah lain muncul di ruang pengambilan bagasi. Koper mereka tidak kunjung keluar.

Di ruang bagasi itu, hanya ada satu mesin conveyor. Itu pun bekerja setengah hati.

“Putar satu kali lalu berhenti. Putar lagi lalu mati lagi,” tutur Pater Nus.

Belakangan ia tahu penyebabnya sederhana: listrik.

Meski berada di ibu kota negara, listrik di Kinshasa ternyata sering mati hidup. Dalam sehari, pemadaman bisa terjadi berkali-kali. Situasi itu membuat penumpang hanya bisa pasrah menunggu koper muncul entah kapan.

Berjam-jam menunggu, hasilnya nihil.

Baca Juga: Responden Pertama, Cak Eri Ajak Warga Surabaya Ikut Sensus Ekonomi

Petugas akhirnya memberi kabar yang membuat mereka hanya bisa tersenyum kecil.

“Maaf, koper masih tertinggal di Kenya. Besok atau lusa baru tiba.”

Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima keadaan.

Masalah belum selesai. Ketika keluar bandara, penjemput ternyata belum datang. Di tengah situasi bingung itu, seorang anak muda mendekat menawarkan bantuan tidak biasa: menyewakan HP senter miliknya.

Pater Nus dan rekannya akhirnya membayar lima dolar hanya untuk memakai HP tersebut selama kurang dari satu menit guna menghubungi sekretaris provinsial.

“Yang penting kami bisa kontak penjemput,” katanya.

Meski sederhana, bantuan itu sangat berarti di tengah situasi asing yang mereka hadapi malam itu.

Pater Nus mengakui, Bandara Internasional Djili Kinshasa memang terbesar dan termewah di Kongo. Namun masih banyak kekurangan yang terasa mencolok.

“Listrik mati hidup, tidak ada Wi-Fi, dan semua orang bisa masuk area bandara,” ujarnya.

Cerita itu mengingatkannya pada kisah seniornya yang datang ke Kongo tahun 2006.

“Saya pikir itu kebun singkong,” kata seniornya waktu itu, setelah melihat mama-mama menggali ubi di area sekitar bandara saat pesawat hendak mendarat.

Mendengar cerita tersebut, Pater Nus hanya bisa tertawa dalam hati.

Editor : Lambertus Hurek
#Pater Nus Narek SVD #Kinshasa #bandara internasional #kongo