Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pemain Kongo Makan Tepung Singkong Saban Hari, Sukses Tahan Imbang Portugal di Piala Dunia 2026

Lambertus Hurek • Kamis, 18 Juni 2026 | 14:02 WIB
Pater Nus Narek menikmati Fufu, makanan khas Kongo, bersama warga setempat. (IST)
Pater Nus Narek menikmati Fufu, makanan khas Kongo, bersama warga setempat. (IST)
 

RADAR SURABAYA - Kejutan terjadi di ajang FIFA World Cup 2026. Tim nasional Kongo berhasil menahan imbang Portugal dengan skor 1-1 dalam laga yang berlangsung sengit. Hasil ini cukup mengejutkan banyak pihak, mengingat Portugal datang dengan kekuatan penuh, termasuk diperkuat megabintang Cristiano Ronaldo.

Di atas kertas, Portugal memang jauh lebih unggul. Materi pemain mereka dipenuhi nama besar yang berlaga di klub-klub elite Eropa. Namun sepak bola selalu menyimpan kejutan. Kongo membuktikan bahwa semangat juang, disiplin, dan kekompakan tim bisa menjadi penyeimbang melawan kekuatan besar.

Baca Juga: Bursa Transfer: Ramadhan Sananta Resmi Perkuat Lini Depan Persebaya

Di balik performa mengejutkan Timnas Kongo, ada kisah menarik tentang kehidupan sehari-hari masyarakat negeri tersebut.

Pater Nus Narek SVD, misionaris asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang hampir empat tahun bertugas di Kongo, mengungkapkan bahwa masyarakat Kongo baik di kota maupun desa memiliki pola hidup yang sederhana. Salah satunya terlihat dari makanan pokok mereka yang hampir selalu sama setiap hari: fufu.

Menurut Pater Nus, fufu merupakan makanan utama masyarakat Kongo yang dibuat dari tepung singkong.

“Kehidupan masyarakat Kongo sangat sederhana. Hampir setiap hari mereka makan fufu. Bahan dasarnya dari singkong yang diolah menjadi tepung, lalu dimasak lagi hingga menjadi makanan pokok,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, singkong menjadi tanaman yang sangat penting di Kongo. Hampir semua kebun warga ditanami singkong karena tanaman ini menjadi sumber pangan utama masyarakat.

Umbi singkong dipanen, diolah menjadi tepung, lalu dimasak menjadi fufu. Makanan itu biasanya disajikan dalam satu wadah besar dan disantap bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.

“Uniknya, mereka makan dari satu wadah yang sama. Semua anggota keluarga berkumpul, duduk bersama, lalu menikmati fufu rame-rame. Ada nilai kebersamaan yang sangat kuat,” kata Pater Nus.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Buka Kesempatan Jagal Baru Bergabung di RPH Tambak Osowilangun

Ia menambahkan, kebiasaan hidup masyarakat Kongo sangat berbeda dibanding suasana kehidupan di Indonesia. Menjelang malam, aktivitas warga perlahan berhenti. Setelah makan malam, kampung-kampung menjadi sangat sunyi.

“Kalau malam tiba, semuanya masuk rumah dan tidur. Kampung benar-benar hening. Tidak ada suara musik keras, tidak ada karaoke, tidak ada keramaian seperti yang sering kita jumpai di Indonesia,” tuturnya.

Kesederhanaan hidup itu, menurut Pater Nus, justru membentuk karakter masyarakat Kongo yang tangguh dan kuat secara fisik. Meski makanan mereka terbilang sederhana, kandungan energi dari fufu ternyata sangat besar.

Makanan berbasis singkong itu memberi tenaga cukup untuk menjalani aktivitas berat sehari-hari, termasuk bagi para atlet sepak bola.

“Jangan remehkan makanan sederhana ini. Fufu ternyata memberi energi luar biasa. Orang-orang Kongo terbiasa bekerja keras dengan makanan itu. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu kekuatan pemain-pemain timnas mereka,” ujarnya. (*) 

Editor : Lambertus Hurek
#makanan pokok kongo #fufu kongo #tepung singkong #pater nus narek #kongo