RADAR SURABAYA - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel menahan ratusan aktivis dari armada Global Sumud Flotilla (GSF) yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina.
Dari jumlah tersebut, 9 warga negara Indonesia (WNI) ikut ditangkap. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) langsung bergerak cepat dengan mengaktifkan jalur diplomasi melalui Turki dan Yordania untuk mendesak pembebasan para relawan.
Dilansir dari AFP, otoritas Israel menyebut ada 430 aktivis yang ditangkap dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod.
Baca Juga: Surabaya Jadi Kandidat Kota Percontohan Kawasan Tanpa Rokok Tingkat Nasional
Kelompok HAM Adalah mengecam tindakan Israel, menyebutnya sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap warga Gaza.
“Para peserta warga sipil ini diculik secara paksa dari perairan internasional dan dibawa ke wilayah Israel, sepenuhnya bertentangan dengan keinginan mereka,” tulis Adalah.
Israel menolak operasi GSF dengan alasan dianggap mendukung Hamas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut armada tersebut sebagai “skema jahat untuk mematahkan blokade Israel terhadap teroris Hamas di Gaza”.
Baca Juga: Bertambah! Relawan Indonesia dalam Misi Global Sumud Flotilla yang Ditahan Israel Jadi 9 Orang
Armada GSF sendiri berlayar dari Turki pekan lalu dengan sekitar 50 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan.
Posisi Indonesia
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa penangkapan 9 WNI bukanlah kasus penculikan atau penyanderaan, melainkan intersepsi militer terhadap kapal yang mencoba menembus blokade laut.
“Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan di-intercept karena Israel melarang kapal apa pun masuk ke wilayah tersebut,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5).
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Kamis 21 Mei 2026, Siang Panas Terik, Ada Potensi Hujan Ringan
Sugiono menambahkan, Kemlu terus memantau situasi dan telah menginstruksikan perwakilan diplomatik di Timur Tengah untuk bergerak cepat mengamankan kepulangan para WNI. Hingga Rabu dini hari, jumlah WNI yang ditangkap bertambah dari 5 menjadi 9 orang.
Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga jalur komunikasi dilakukan melalui negara ketiga.
“Kami meminta bantuan Turki dan Yordania untuk memastikan kondisi para WNI baik dan diperlakukan dengan layak,” jelas Sugiono.
Selain itu, pemerintah juga menunjuk lembaga HAM Adalah untuk memberikan pengawalan hukum langsung di wilayah Israel.
Baca Juga: Miris! Siswi SMP di Malang Diduga Dicabuli Oleh Ayah Mantan Kekasih
“Kami harapkan hal ini tidak berlangsung lama. Kami akan terus melakukan pengawasan serta tekanan agar kondisi mereka baik sampai nanti dipulangkan ke tanah air,” tegasnya.
Sugiono menambahkan bahwa keterbatasan komunikasi menjadi tantangan utama dalam proses negosiasi.
“Kita harus lewat pihak ketiga karena tidak ada jalur komunikasi terbuka. Namun, koordinasi terus dilakukan setiap saat,” ujarnya.
Baca Juga: Bursa Transfer: Jarrod Bowen Jadi Rebutan Manchester United, Liverpool, dan Chelsea
“Dan apa yang dilakukan oleh Israel merupakan suatu hal yang melanggar kemanusiaan. Karena mereka ada dalam misi damai, saya hargai semangat mereka untuk mencari solusi bagi saudara-saudara kita di Gaza,” ujar imbuh Sugiono. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari