Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

88 Orang Tewas Akibat Wabah Ebola di Kongo, WHO Tetapkan Darurat Global

Nurista Purnamasari • Senin, 18 Mei 2026 | 00:23 WIB
Pusat layanan medis untuk penyakit ebola di Kongo. (AP)
Pusat layanan medis untuk penyakit ebola di Kongo. (AP)

RADAR SURABAYA - Wabah Ebola strain Bundibugyo kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo (DRC). Hingga Minggu (17/5), CDC Afrika melaporkan sedikitnya 88 orang meninggal dunia di provinsi Ituri, wilayah timur Kongo. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status darurat kesehatan global atas wabah ini, meski belum dikategorikan sebagai pandemi. 

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius karena strain Bundibugyo belum memiliki vaksin dan tingkat kematiannya mencapai 50 persen.

Baca Juga: Garap Segmen Premium, CitraHarmoni Kembali Rilis Tipe Vermont Harga Rp 2,2 Miliar

Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, menyebut kasus pertama muncul di zona kesehatan Mongwalu, kawasan pertambangan dengan mobilitas tinggi. 

“Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan,” ujarnya dalam konferensi pers daring.

Menteri Kesehatan Kongo, Samuel-Roger Kamba, menegaskan wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo. 

Baca Juga: Pengalaman Pater Nus Narek SVD di Kongo Afrika: Menikmati Daging Tikus, Jangkrik, dan Ulat Daun Hasil Buruan Warga di Hutan

“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus. Tingkat kematiannya bisa mencapai 50 persen,” katanya. 

Ia menambahkan kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat yang meninggal di Bunia pada 24 April.

WHO menyatakan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). 

Baca Juga: Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Adha 2026, Jatuh pada 27 Mei!

“Penyakit Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, tetapi tidak memenuhi kriteria pandemi,” tulis WHO dalam pernyataan resmi.

Warga Bunia mengaku hidup dalam ketakutan. “Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang,” kata Jean Marc Asimwe, warga Bunia.

Sementara itu, Uganda melaporkan satu kasus Ebola impor dari Kongo. Pasien meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei. 

Pemerintah Uganda memperketat pemeriksaan kesehatan di fasilitas medis, sementara Kenya menyebut risiko masuknya Ebola ke negaranya berada pada level moderat.

Baca Juga: Waspada, Enam Hari Banjir Rob di Pesisir Surabaya

Kelompok bantuan medis Dokter Tanpa Batas (MSF) menyatakan sedang mempersiapkan respons skala besar. 

“Jumlah kasus dan kematian yang kami lihat dalam jangka waktu singkat, dikombinasikan dengan penyebaran di beberapa zona kesehatan dan melintasi perbatasan, sangat mengkhawatirkan,” ujar Trish Newport, Manajer Program Darurat MSF.

Wabah Ebola kali ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan di Kongo, tetapi juga ancaman regional bagi negara tetangga seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Kenya. 

Baca Juga: ONE OK ROCK Tutup Tur Asia di Jakarta, Album “DETOX” Jadi Simbol Perlawanan dan Harapan

Tingginya mobilitas warga di kawasan perbatasan memperbesar risiko penyebaran lintas negara.

Selain itu, tantangan logistik menjadi hambatan besar. Ituri berjarak 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa dan merupakan wilayah konflik, sehingga distribusi peralatan medis dan isolasi pasien sulit dilakukan. Kondisi ini membuat penanganan wabah semakin kompleks.

Dengan 88 korban meninggal dan ratusan kasus suspek, wabah Ebola Bundibugyo di Kongo menjadi salah satu krisis kesehatan paling serius di Afrika tahun ini. 

Baca Juga: Geger, Warga Jalan Dupak Masigit Surabaya Ceburkan Diri ke Sumur, Ini Pemicunya

WHO, CDC Afrika, dan MSF kini memperingatkan bahwa tanpa vaksin dan pengobatan khusus, wabah berpotensi menyebar lebih luas. (tnt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#wabah ebola #uganda #ebola #who #kongo