Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Amerika Serikat Tak Lagi Jadi Negeri Impian? Merz Ungkap Fakta Mengejutkan Ini

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:22 WIB
Kanselir Jerman Friedrich Merz menganggap Amerika Serikat sudah tidak menarik lagi. (The Guardian)
Kanselir Jerman Friedrich Merz menganggap Amerika Serikat sudah tidak menarik lagi. (The Guardian)

RADAR SURABAYA - Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan tidak akan menyarankan anak-anaknya untuk belajar atau bekerja di Amerika Serikat.

Pernyataan itu ia sampaikan di tengah meningkatnya ketegangan hubungan transatlantik dan dinamika sosial di Negeri Paman Sam.

Dalam sebuah konferensi kaum muda Katolik di Würzburg, Merz mengungkapkan bahwa ia tidak lagi memandang Amerika Serikat sebagai “negeri peluang” seperti yang selama ini diyakini banyak orang.

“Saya adalah pengagum besar Amerika. Namun saat ini, kekaguman itu tidak bertambah,” ujar Merz dikutip dari The Guardian. 

Baca Juga: Sekolah Disegel, 90 Siswa SMK Kesehatan di Pamekasan Terpaksa Belajar Daring 

Soroti Polarisasi Sosial dan Sulitnya Lapangan Kerja

Merz menilai perubahan cepat dalam iklim sosial di Amerika Serikat menjadi alasan utama sikapnya.

Ia menyebut kondisi masyarakat yang semakin terpolarisasi membuat situasi menjadi kurang kondusif, terutama bagi generasi muda.

“Saya tidak akan menyarankan anak-anak saya untuk pergi ke AS, baik untuk menempuh pendidikan maupun bekerja, karena iklim sosial tertentu yang berkembang saat ini,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi pasar kerja di AS yang disebutnya semakin kompetitif, bahkan bagi lulusan dengan pendidikan tinggi.

Respons Keras dari Kubu Trump

Pernyataan Merz langsung menuai kritik dari kubu Presiden AS, Donald Trump. Mantan Duta Besar AS untuk Jerman, Richard Grenell, melontarkan kritik tajam melalui media sosial.

Grenell menyebut Merz tidak konsisten, mengingat dalam pertemuan sebelumnya dengan Trump di Gedung Putih, ia dinilai bersikap lunak dan penuh pujian.

“Jerman memiliki pemimpin tanpa strategi dan dipengaruhi media ‘woke’,” tulis Grenell.

Selain itu, politisi sayap kanan Jerman, Alice Weidel, juga ikut mengkritik. Ia menilai pernyataan Merz justru bertolak belakang dengan kondisi internal Jerman yang dinilainya menghadapi tantangan besar.

Baca Juga: Heboh ChatGPT Diretas! OpenAI Bongkar Fakta Sebenarnya soal Data Pengguna

Ketegangan AS–Eropa Meningkat

Hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memang tengah mengalami tekanan.

 Sejumlah isu seperti perang di Iran, bantuan militer untuk Ukraina, hingga kebijakan perdagangan memperkeruh situasi.

Merz bahkan sebelumnya sempat menyebut Amerika “dipermalukan” dalam konflik dengan Iran, yang memicu reaksi keras dari Trump.

Tak lama setelah itu, Washington mengumumkan penarikan sebagian pasukan dari Jerman serta kenaikan tarif impor mobil dari Uni Eropa—kebijakan yang berdampak langsung pada ekonomi Jerman.

Merz Tetap Buka Peluang Kerja Sama

Meski melontarkan kritik, Merz menegaskan bahwa ia tidak menutup pintu kerja sama dengan Amerika Serikat.

Ia tetap berkomitmen menjaga hubungan transatlantik, khususnya dalam kerangka NATO.

Dalam pernyataan terbarunya, Merz mengaku telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Trump untuk membahas sejumlah isu global, termasuk Iran dan Ukraina.

“AS dan Jerman tetap menjadi mitra kuat dalam aliansi NATO,” ujar Merz.

Optimisme untuk Masa Depan Jerman

Di sisi lain, Merz mengajak masyarakat Jerman untuk tetap optimistis terhadap masa depan negaranya.

 Ia menilai Jerman masih menjadi salah satu negara dengan peluang terbaik bagi generasi muda.

“Saya yakin hanya sedikit negara di dunia yang menawarkan peluang sebesar Jerman,” katanya.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Kanselir Jerman #friedrich Merz #amerika serikat #NATO #eropa