Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tragedi Laut Andaman: Perahu Disapu Gelombang, 250 Pengungsi Rohingya dan Warga Bangladesh Hilang

Nurista Purnamasari • Rabu, 15 April 2026 | 04:20 WIB
Ilustrasi perahu yang ditumpangi warga Rohingya. (AFP)
Ilustrasi perahu yang ditumpangi warga Rohingya. (AFP)

RADAR SURABAYA - Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Laut Andaman. Sebuah perahu yang membawa sekitar 250 pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh dilaporkan terbalik akibat angin kencang, gelombang tinggi, dan kelebihan muatan. 

Menurut laporan Reuters, perahu tersebut berangkat dari Teknaf, Bangladesh selatan, menuju Malaysia sebelum akhirnya tenggelam di tengah laut. 

Badan pengungsi dan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kapal penangkap ikan yang membawa ratusan pria, perempuan, dan anak-anak itu tidak mampu menahan cuaca ekstrem.

Baca Juga: Viral Kereta Keluarkan Percikan Api di Ahmad Yani Surabaya, Daop 8 Tegaskan Kondisi Teknis Normal dan Tidak Berbahaya

Dalam pernyataan bersama, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menegaskan bahwa tragedi ini mencerminkan besarnya biaya kemanusiaan akibat pengungsian berkepanjangan. 

“Tragedi ini menyoroti besarnya biaya kemanusiaan akibat pengungsian yang terus berlanjut serta tidak adanya solusi jangka panjang bagi Rohingya,” tulis pernyataan tersebut.

Selama bertahun-tahun, ribuan warga Rohingya terpaksa menempuh perjalanan berbahaya menggunakan perahu kayu rapuh untuk mencapai negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand. 

Baca Juga: Rotasi Kejaksaan, Kajati Jatim Agus Sahat Diganti Abdul Qohar

Mereka melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar dan kondisi kamp pengungsi yang penuh sesak di Bangladesh.

PBB menyerukan kepada komunitas internasional untuk meningkatkan pendanaan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya dan masyarakat tuan rumah di Bangladesh. Dukungan global dinilai penting agar tragedi serupa tidak terus berulang.

Krisis ini berakar dari operasi militer Myanmar pada tahun 2017 yang memaksa sedikitnya 730 ribu warga Rohingya meninggalkan rumah mereka. 

Baca Juga: Pemkot Surabaya Lelang Puluhan Kendaraan Operasional, Siap Beralih ke Kendaraan Listrik

Mereka melaporkan terjadinya pembunuhan, pemerkosaan massal, dan pembakaran desa. 

Misi pencari fakta PBB menyimpulkan bahwa tindakan tersebut mengandung unsur genosida.

Namun, pemerintah Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha membantah tuduhan tersebut dan menyebut laporan PBB tidak objektif. 

Hingga kini, belum ada penyelesaian politik yang mampu menjamin keamanan dan hak-hak warga Rohingya di tanah kelahirannya.

Baca Juga: Kedai Kopi Bernuansa Jawa di Surabaya,   Edukasi Budaya lewat Gamelan dan Wayang

PBB menegaskan perlunya kolaborasi internasional untuk memberikan solusi jangka panjang, mulai dari perlindungan hukum hingga akses kehidupan yang layak bagi para pengungsi. (reu/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#laut andaman #rohingya #pbb #bangladesh #perahu tenggelam bengawan solo