Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Krisis Energi Asia Tenggara Memanas! Perang Israel/AS-Iran Buka Jalan Tiongkok Jadi “Penyelamat”

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 28 Maret 2026 | 15:44 WIB
Tiongkok tawarkan bantuan atasi krisis energi, tapi juga batasi ekspor bahan bakar/DW News/Yao Feng/HPIC/dpa/picture alliance
Tiongkok tawarkan bantuan atasi krisis energi, tapi juga batasi ekspor bahan bakar/DW News/Yao Feng/HPIC/dpa/picture alliance

RADAR SURABAYA – Dampak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menjalar jauh ke luar Timur Tengah.

Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu yang paling terpukul akibat lonjakan harga energi global, memicu kepanikan pemerintah dan mengguncang stabilitas ekonomi regional.

Di tengah situasi yang semakin tidak menentu, Tiongkok justru melihat peluang. Beijing bergerak cepat, menawarkan kerja sama energi sekaligus memposisikan diri sebagai mitra yang lebih stabil dibanding Washington.

Selat Hormuz Terganggu, Nadi Energi Dunia Terancam

Krisis bermula dari terganggunya distribusi minyak dan gas di Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Gangguan di titik ini langsung berdampak global. Harga minyak mentah melonjak tajam, sementara biaya logistik dan transportasi ikut terdongkrak.

Negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk di Asia Tenggara, menjadi pihak paling rentan.

Baca Juga: Iran Mulai Izinkan Kapal Negara Sahabat Lewati Selat Hormuz, Begini Syaratnya

Asia Tenggara Siaga Darurat Energi

Sejumlah negara di kawasan langsung mengambil langkah drastis:

Filipina menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun, disertai kebijakan kerja empat hari dan pembatasan konsumsi listrik.

Vietnam mengaktifkan dana stabilisasi harga dan mengantisipasi pengurangan operasional penerbangan.

Thailand menyiapkan subsidi tambahan, terutama untuk sektor perikanan yang terpukul harga solar.

Indonesia meningkatkan subsidi energi untuk menahan lonjakan harga domestik.

Bahkan negara eksportir seperti Malaysia dan Brunei tetap terdampak, terutama akibat tekanan inflasi dan gangguan rantai pasok.

Data penting:

Harga energi global naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Pasokan avtur di beberapa negara Asia dilaporkan hanya aman hingga akhir Maret 2026.

Impor bahan bakar dari Rusia ke Asia mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Tiongkok Masuk: Dari Mitra Dagang Jadi “Penyelamat”

Di saat negara-negara Asia Tenggara sibuk mencari pasokan alternatif, Tiongkok bergerak menawarkan solusi.

Baca Juga: Raphinha Cedera 5 Pekan, Barcelona Terancam Tanpa Andalan di Laga Krusial

Menurut Li Mingjiang dari S. Rajaratnam School of International Studies, Beijing berupaya tampil sebagai aktor global yang bertanggung jawab dan penstabil.

Langkah Tiongkok meliputi: Tawaran kerja sama keamanan energi, dorongan diplomasi dan deeskalasi konflik, serta penguatan hubungan ekonomi dengan negara ASEAN

Sikap ini selaras dengan pendekatan negara-negara Asia Tenggara yang cenderung menghindari konflik terbuka dan lebih memilih jalur diplomasi.

Citra AS Terpukul, Tiongkok Diuntungkan

Krisis ini juga berdampak pada persepsi publik. Intervensi militer Amerika Serikat dan sekutunya dinilai memperburuk situasi global.

Menurut analis dari University of Hong Kong, lonjakan harga energi membuat sentimen terhadap AS semakin negatif di Asia Tenggara.

Sebaliknya, Tiongkok diuntungkan karena: Tidak terlibat langsung dalam konflik, mengedepankan narasi perdamaian, aktif menawarkan solusi ekonomi. 

Namun, realitasnya tidak sepenuhnya ideal. Beijing juga membatasi ekspor bahan bakar demi menjaga kebutuhan domestik, yang sempat memicu kekhawatiran di negara seperti Kamboja.

Momentum Besar Energi Terbarukan

Di balik krisis, muncul peluang strategis: percepatan transisi energi.

Baca Juga: PP Tunas Resmi Berlaku Hari Ini,  Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Akses Media Sosial

Ketergantungan pada minyak Timur Tengah kini dianggap terlalu berisiko. Negara-negara Asia Tenggara mulai melirik energi alternatif, seperti: Tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air, kendaraan listrik. 

Tiongkok berada di posisi unggul dalam sektor ini. Perusahaan-perusahaan asal Beijing telah menjadi investor utama dalam: Industri baterai dan kendaraan listrik, proyek energi surya skala besar, infrastruktur listrik regional. 

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, bahkan menilai Tiongkok dapat memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Pergeseran Kekuatan Global Dimulai?

Krisis ini bisa menjadi titik balik geopolitik di Asia Tenggara. Jika tren berlanjut:

Pengaruh Amerika Serikat di kawasan berpotensi menurun

Tiongkok semakin dominan dalam sektor energi dan ekonomi

ASEAN terdorong mempercepat integrasi energi regional

Namun, negara-negara Asia Tenggara kemungkinan tetap mengambil posisi “hedging”, tidak sepenuhnya berpihak pada satu kekuatan, melainkan menjaga keseimbangan antara AS dan Tiongkok.

Baca Juga: Bakpao Gandum RoyalKueID, Camilan Praktis yang Tumbuh Bersama Ekosistem Pemberdayaan BRI

Perang di Timur Tengah telah memicu efek domino hingga Asia Tenggara, terutama dalam bentuk krisis energi.

Dalam situasi ini, Tiongkok berhasil memanfaatkan momentum untuk memperluas pengaruhnya.

Namun, di balik peluang tersebut, kawasan juga menghadapi tantangan besar: bagaimana mengamankan pasokan energi sekaligus mempercepat transisi menuju sumber yang lebih berkelanjutan.

Sumber: DW News

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#krisis energi #Tiongkok #selat hormuz #energi terbarukan #Asia Tenggara