RADAR SURABAYA - Idul Fitri 1447 Hijriah di Gaza, Palestina, berlangsung dalam suasana penuh luka. Pada Jumat (20/3), ribuan warga tetap menunaikan salat Idul Fitri di Lapangan Al-Saraya meski dikelilingi puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel.
Tradisi Lebaran tetap dijalankan dengan khusyuk, menjadi simbol keteguhan iman di tengah penderitaan.
Dilansir Al Jazeera dan AFP, keluarga Palestina berkumpul di ruang terbuka dan di luar masjid yang rusak untuk beribadah bersama.
Baca Juga: Muhammadiyah Salurkan 850 Paket Bantuan Ramadan untuk Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat
“Terlepas dari genosida dan pengungsian, warga tetap mempertahankan tradisi Idulfitri,” tulis laporan media internasional.
Pejabat senior Hamas, Ismail Radwan, memimpin salat Idul Fitri di Lapangan Al-Saraya. Anggota Brigade Ezzedine Al-Qassam dan Brigade Quds Jihad Islam ditempatkan di persimpangan jalan untuk menjaga keamanan jemaah.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan empat warga tewas akibat serangan udara Israel sehari sebelumnya.
Baca Juga: FIFA Resmi Umumkan ASEAN Cup 2026, Jadwalnya Bikin Timnas Indonesia Harus Kerja Ekstra!
Selain beribadah, sejumlah warga juga mengunjungi makam kerabat di Pemakaman Al-Saraya. Laporan setempat menyebutkan lebih dari 1.100 masjid di Gaza telah hancur sejak akhir 2023, menyisakan hanya sedikit tempat ibadah yang masih berdiri.
Seorang warga Gaza yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Kami kehilangan rumah, masjid, dan keluarga. Tapi kami tidak akan kehilangan iman. Salat Idulfitri adalah bukti bahwa kami tetap bertahan”.
Sementara itu, otoritas Israel melarang salat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan.
Baca Juga: Penuh Haru, Denada dan Ressa Rizky Rossano Akhirnya Bertemu
Warga Palestina menyerukan jemaah untuk berkumpul di dekat Kota Tua Yerusalem agar tetap bisa menandai berakhirnya Ramadan.
Polisi Israel sebelumnya menggunakan pentungan, granat suara, dan gas air mata terhadap warga yang beribadah di luar tembok Kota Tua.
Yerusalem Timur memasuki IdulFitri dengan suasana muram. Kota Tua yang biasanya ramai menjelang Lebaran tampak sunyi, menyerupai kota hantu.
Para pedagang Palestina mengaku mengalami kesulitan ekonomi karena pembatasan yang melarang mereka membuka toko, kecuali apotek dan toko kebutuhan pokok. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari