RADAR SURABAYA– Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menilai Israel akan terus mencari musuh eksternal selama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih memimpin negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Fidan dalam wawancara dengan Associated Press yang kemudian dikutip berbagai media internasional.
Menurutnya, pemerintah Israel membutuhkan keberadaan musuh eksternal untuk memperkuat agenda politiknya di kawasan Timur Tengah.
“Selama Netanyahu masih berkuasa, Israel akan selalu mengidentifikasi seseorang sebagai musuh,” kata Fidan dikutip kantor berita TASS, Minggu (15/3).
“Mereka membutuhkan itu untuk memajukan agenda mereka sendiri. Jika bukan Turki, mereka akan menunjuk negara lain di kawasan sebagai musuh.” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan sejumlah kelompok militan di kawasan.
Fidan juga mengkritik kebijakan Israel di Suriah. Ia menyoroti sejumlah serangan militer Israel terhadap fasilitas militer di wilayah Suriah serta langkah Tel Aviv yang disebut mengambil alih sebagian wilayah di selatan negara tersebut.
Menurut Fidan, tindakan Israel tidak semata-mata didorong oleh kepentingan keamanan nasional.
Ia menilai kebijakan tersebut justru berkaitan dengan ambisi memperluas wilayah pengaruh.
“Mereka bukan mengejar keamanan, tetapi mengejar lebih banyak wilayah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fidan memperingatkan bahwa selama gagasan ekspansi wilayah masih menjadi bagian dari strategi politik Israel, potensi konflik di Timur Tengah akan terus berlanjut.
“Selama mereka tidak meninggalkan gagasan tersebut, akan selalu ada perang di Timur Tengah,” katanya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir memang kembali meningkat.
Sejumlah negara dan kelompok militan menyuarakan dukungan terhadap Iran, sementara Amerika Serikat dan Israel disebut meningkatkan kesiapan militernya di kawasan.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru akan meluasnya konflik regional yang dapat berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi global.
Analis geopolitik menilai perseteruan antara Israel dan sejumlah negara di kawasan, termasuk Iran, berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih besar jika tidak diimbangi dengan upaya diplomasi intensif.
Sementara itu, komunitas internasional terus mendorong dialog dan upaya diplomatik guna meredakan ketegangan yang berpotensi memicu konflik berskala luas di Timur Tengah.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan