Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jika Iran Melemah karena Perang dengan Israel-Amerika Serikat, Justru Akan Merugikan Negara-Negara Arab

Rahmat Adhy Kurniawan • Minggu, 15 Maret 2026 | 06:27 WIB
Para pengunjuk rasa membawa poster dan mengibarkan bendera Palestina saat melakukan long march menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam rangka memperingati Hari Internasional Al-Quds di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: Fazry Ismail/EPA.
Para pengunjuk rasa membawa poster dan mengibarkan bendera Palestina saat melakukan long march menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam rangka memperingati Hari Internasional Al-Quds di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: Fazry Ismail/EPA.

Konflik Iran vs Israel-AS: Mengapa Kekalahan Iran Justru Jadi Bencana bagi Negara Arab?

RADAR SURABAYA - Konflik terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang semakin memanas sejak serangan balasan Iran terhadap Israel pada 2024 dan eskalasi berikutnya, kemudian serangan terhadap Iran pada 27 Februari lalu telah menjadi topik utama di panggung internasional. 

Banyak pengamat Barat dan beberapa pemimpin Arab berharap bahwa melemahnya Iran akan membawa “stabilitas” baru di Timur Tengah.

 Namun, analisis mendalam justru menunjukkan sebaliknya: pelemahan Iran akibat perang ini akan menjadi bencana strategis bagi negara-negara Arab,

karena Israel akan menjadi kekuatan regional yang tak tertandingi, sehingga ekspansi Israel di Palestina tidak lagi memiliki lawan yang signifikan.

Iran sebagai “Poros Perlawanan” Terakhir Palestina

Selama lebih dari empat dekade, Iran telah memposisikan dirinya sebagai satu-satunya negara non-Arab yang secara konsisten dan aktif mendukung perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Melalui jaringan “Axis of Resistance” (Poros Perlawanan), Teheran memberikan dukungan finansial, militer, dan logistik kepada:

- Hamas dan Jihad Islam Palestina di Gaza,

- Hizbullah di Lebanon,

- Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah dan Irak,

- serta Houthi di Yaman yang kerap mengganggu kepentingan Israel dan sekutunya.

Tanpa dukungan Iran, Hamas hampir mustahil bertahan menghadapi blokade Israel selama 17 tahun terakhir. Rudal-rudal Hizbullah yang mengancam Tel Aviv juga sebagian besar berasal dari pasokan dan teknologi Iran.

 Artinya, Iran bukan sekadar “musuh Arab”, melainkan penyeimbang kekuasaan yang mencegah Israel bertindak sewenang-wenang di wilayah Palestina.

Jika perang dengan Israel-AS berhasil melemahkan Iran, baik secara militer (penghancuran fasilitas nuklir dan pangkalan), ekonomi (sanksi lebih berat), maupun politik (jatuhnya rezim atau pecahnya negara),

maka seluruh jaringan ini akan runtuh. Hamas akan kehilangan suplai senjata dan dana. Hizbullah akan terisolasi. 

Kelompok perlawanan di Tepi Barat dan Gaza akan kehabisan napas. Akibatnya, Israel tidak lagi menghadapi “ancaman eksistensial” dari utara dan selatan secara bersamaan.

Israel yang “Tak Terkendali” = Ancaman Eksistensial bagi Palestina dan Stabilitas Arab

Dengan Iran yang melemah, Israel akan memiliki kebebasan strategis yang belum pernah terjadi sejak 1979. Beberapa skenario yang sangat mungkin terjadi:

1.Aneksasi Penuh Tepi Barat

   Pemerintah Benjamin Netanyahu dan penerusnya telah terang-terangan berbicara tentang “Yudea dan Samaria” (nama Israel untuk Tepi Barat).

 Tanpa tekanan dari Hizbullah dan Iran, Israel bisa mempercepat pembangunan pemukiman ilegal, mengusir penduduk Palestina, dan secara de facto mencaplok wilayah tersebut.

 Peta “Israel Raya” yang selama ini hanya mimpi ekstremis akan menjadi kenyataan.

2.Penghancuran Total Perlawanan Gaza

   Operasi militer Israel di Gaza yang sudah menewaskan puluhan ribu warga sipil akan berlanjut tanpa hambatan eksternal.

 Hamas akan benar-benar dieliminasi, dan Gaza bisa dijadikan “zona penyangga” atau bahkan dianeksasi sebagian.

3.Dominasi Regional yang Tak Tertandingi

   Israel akan menjadi satu-satunya kekuatan nuklir de facto di Timur Tengah tanpa rival serius.

Negara-negara Arab yang selama ini mengandalkan “ancaman Iran” untuk mendapatkan perlindungan AS akan kehilangan kartu tawar-menawar mereka. 

AS tidak lagi perlu “menyenangkan” Arab dengan bantuan militer sebesar-besarnya, karena Israel sudah cukup kuat untuk menjaga kepentingan Barat sendirian.

Mengapa Negara-Negara Arab Justru Rugi Besar?

Banyak yang beranggapan bahwa Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko, yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords—akan “senang” melihat Iran jatuh.

 Namun, kalkulasi ini keliru karena dua alasan mendasar:

Pertama, isu Palestina tetap menjadi “jantung” identitas Arab. Rakyat Arab dari Maroko hingga Yaman masih melihat Palestina sebagai tanah suci dan simbol kehormatan bangsa. 

Jika Israel berhasil menguasai seluruh Palestina tanpa perlawanan signifikan, gelombang amarah rakyat akan membanjiri istana-istana Arab. 

Pemerintah Arab yang pro-Israel akan dianggap pengkhianat, dan stabilitas internal mereka terancam (seperti yang terjadi pada Arab Spring 2011).

Kedua, kekosongan kekuasaan akan menciptakan kekacauan baru. Tanpa Iran sebagai “musuh bersama”, Israel tidak lagi membutuhkan “perdamaian dingin” dengan negara Arab.

 Tel Aviv bisa menekan negara-negara Arab untuk memberikan konsesi lebih besar—mulai dari pengakuan penuh Yerusalem sebagai ibu kota Israel, hingga pembukaan ruang udara dan pangkalan militer.

Negara Arab yang menolak akan diancam dengan isolasi ekonomi dan militer.

Lebih jauh lagi, pengungsi Palestina yang terusir akibat ekspansi Israel akan membanjiri Yordania, Lebanon, dan Mesir—negara yang sudah kelebihan beban.

 Krisis kemanusiaan ini akan memicu ketegangan sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar daripada “ancaman Iran” yang selama ini digembar-gemborkan.

Pelemahan Iran Bukan Kemenangan Arab, Melainkan Kekalahan Strategis

Mereka yang mendukung perang melawan Iran dengan harapan “mengakhiri ancaman Syiah” sedang bermain api.

Iran memang rival bagi sebagian negara Arab Sunni, tetapi ia adalah penyeimbang terakhir terhadap ambisi Israel di Palestina.

 Ketika Iran jatuh, Israel tidak akan berhenti di Teheran—ia akan melanjutkan ke Ramallah, Gaza, dan Yerusalem Timur.

Bagi negara-negara Arab, pilihan yang bijak bukanlah ikut-ikutan menghancurkan Iran, melainkan menjaga keseimbangan kekuatan regional.

Karena pada akhirnya, ketika tidak ada lagi negara yang berani melawan Israel, yang tersisa hanyalah satu kekuatan hegemonik yang menentukan nasib seluruh Timur Tengah,

dan itu bukanlah kemenangan bagi bangsa Arab, melainkan akhir dari harapan Palestina yang selama ini masih mereka perjuangkan. 

Sejarah akan mencatat: melemahkan Iran bukanlah kemenangan Arab atas Iran, Sunni atas Syi'ah, melainkan pengkhianatan terhadap Palestina dan masa depan bangsa Arab sendiri karena mereka menjadi tak berdaya di hadapan Israel. (rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#perang iran #amerika serikat (AS) #Israel