RADAR SURABAYA – Pada masa kenabian Rasulullah SAW, masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Bangunan ini juga menjadi pusat berbagai aktivitas umat, mulai dari musyawarah, mempererat persaudaraan, hingga membahas persoalan yang dihadapi kaum muslimin.
Salah satu masjid yang memiliki nilai sejarah besar dalam perjalanan Islam adalah Masjid Quba. Masjid ini dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun langsung oleh Rasulullah SAW dan menjadi saksi awal perjalanan hijrah beliau menuju Madinah.
Awal Pembangunan Masjid Quba
Masjid Quba didirikan pada tahun 1 Hijriah atau sekitar 622 Masehi di kawasan Quba, wilayah pinggiran Yatsrib yang kini dikenal sebagai Kota Madinah. Pembangunan masjid ini bermula ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat berhijrah dari Makkah menuju Madinah dan singgah di Quba selama kurang lebih lima hari.
Tanah tempat berdirinya masjid merupakan milik keluarga Kalsum bin Hadam dari kabilah Amir bin Auf. Tanah tersebut kemudian diwakafkan kepada Rasulullah SAW setelah beliau tiba di wilayah tersebut.
Dalam sejumlah literatur sejarah disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Proses pembangunan kemudian dilanjutkan oleh para sahabat, di antaranya Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bersama kaum Muhajirin dan Anshar secara gotong royong hingga masjid selesai didirikan.
Masjid Quba juga disebut dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 108 sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa.
“Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih patut engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108).
Semasa hidupnya, Rasulullah SAW diketahui kerap mengunjungi Masjid Quba untuk melaksanakan sholat, terutama pada hari Sabtu, Senin, dan Kamis. Setelah beliau wafat, para sahabat tetap menjaga tradisi tersebut dengan terus beribadah di masjid ini.
Karena nilai sejarahnya yang besar, Masjid Quba menjadi salah satu lokasi yang dianjurkan untuk dikunjungi oleh umat Islam saat menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Baca Juga: Masjid Pesucinan Gresik, Jadi Jejak Islamisasi di Wilayah Pesisir Utara Jawa
Arsitektur Masjid Quba
Pada masa awal pembangunannya, Masjid Quba memiliki bentuk yang sangat sederhana. Meski demikian, bangunan ini sudah memenuhi unsur dasar sebuah masjid dan menjadi contoh bagi pembangunan masjid pada masa-masa berikutnya.
Dalam catatan sejarah peradaban Islam dijelaskan, masjid ini memiliki ruang utama berbentuk persegi yang dikelilingi dinding. Di bagian utara terdapat serambi untuk sholat yang ditopang oleh tiang-tiang dari batang pohon kurma, sementara atapnya dibuat dari pelepah kurma yang dilapisi tanah liat.
Di tengah halaman masjid terdapat ruang terbuka atau sahn yang dilengkapi sumur sebagai tempat berwudhu. Area ini memungkinkan cahaya matahari dan sirkulasi udara masuk dengan baik.
Masjid Quba memiliki 19 pintu dengan tiga pintu utama sebagai akses masuk jemaah. Dua pintu digunakan oleh jemaah laki-laki, sementara satu pintu diperuntukkan bagi jemaah perempuan. Selain menjadi tempat ibadah, di dalam masjid juga terdapat ruang yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Baca Juga: Keutamaan Puasa Hari Ke-13 Ramadhan, Pahala Disebut Setara Ibadah Penduduk Makkah dan Madinah
Seiring berjalannya waktu, Masjid Quba mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Salah satu perubahan penting terjadi ketika arah kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis di Palestina menuju Masjidil Haram di Makkah, sehingga arah kiblat masjid turut disesuaikan.
Kini Masjid Quba yang berada sekitar lima kilometer di sebelah tenggara Kota Madinah telah berkembang menjadi bangunan yang lebih luas dan megah. Jika pada masa awal luasnya sekitar 1.200 meter persegi, kini kompleks masjid mencapai sekitar 135.000 meter persegi dengan ruang sholat utama seluas kurang lebih 5.035 meter persegi.
Masjid ini juga dilengkapi lantai marmer yang nyaman bagi jemaah serta atap modern yang dapat dibuka dan ditutup secara otomatis untuk melindungi jemaah dari panas matahari.
Keberadaan Masjid Quba tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan hijrah Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi simbol persatuan umat Islam sekaligus awal berkembangnya peradaban Islam di Madinah. (rif/fir)
Editor : M Firman Syah