RADAR SURABAYA — Konflik bersenjata antara Iran di satu sisi dengan Israel dan Amerika Serikat di sisi lain, yang meletus sejak 28 Februari 2026, terus berlanjut dengan serangan udara intensif.
Operasi gabungan AS-Israel telah menghantam ratusan target militer, infrastruktur rudal balistik, dan fasilitas kepemimpinan di Iran, termasuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada serangan awal.
Iran membalas dengan peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel serta sekutu-sekutunya di Teluk.
Di tengah eskalasi ini, dua mitra strategis utama Iran—Rusia dan China—hanya memberikan dukungan diplomatik keras, tanpa tanda-tanda intervensi militer langsung seperti pengiriman pasukan, suplai senjata besar-besaran, atau dukungan udara.
Keduanya mengutuk serangan AS-Israel sebagai "agresi tak beralasan" dan melanggar hukum internasional, serta mendesak gencatan senjata segera melalui pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB yang mereka inisiasi bersama.
Rusia: Dukungan Retoris, Bukan Aksi Militer
Rusia, yang memiliki perjanjian kemitraan strategis komprehensif dengan Iran (ditandatangani Januari 2025), mengecam keras operasi tersebut.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyatakan bahwa Moskow tidak melihat bukti Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, dan memperingatkan bahwa perang ini justru bisa memicu proliferasi nuklir di kawasan.
Kremlin juga menyebut pembunuhan Khamenei sebagai "pembunuhan sinis".
Namun, Moskow tidak memberikan bantuan material signifikan. Para analis menilai Rusia terlalu terbebani oleh perang di Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022, sehingga militer mereka tidak mampu membuka front baru melawan AS dan Israel.
Tidak ada pakta pertahanan mutual yang mewajibkan intervensi, dan Rusia cenderung mengambil sikap "wait-and-see" dalam konflik yang tidak langsung mengancam kepentingan intinya.
Selain itu, Rusia berhati-hati agar tidak merusak hubungan dengan negara-negara Arab dan Israel, serta memanfaatkan keterlibatan AS di Timur Tengah untuk mengurangi tekanan di Ukraina. Dukungan Rusia tetap pada level retorika dan mediasi diplomatik.
China: Prioritas Ekonomi dan Strategi Jangka Panjang
China, pembeli minyak terbesar Iran dan mitra dalam perjanjian kerjasama 25 tahun, juga bereaksi keras.
Menteri Luar Negeri Wang Yi dalam panggilan telepon dengan Menlu Israel Gideon Saar menyatakan Beijing menentang serangan militer AS-Israel, yang mengganggu negosiasi nuklir yang
sedang berlangsung, dan menyerukan penghentian operasi segera untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Meski demikian, China tidak menunjukkan niat memberikan dukungan militer. Beijing menekankan penyelesaian melalui dialog dan menjaga stabilitas regional, termasuk alur energi melalui Selat Hormuz yang krusial bagi impor minyaknya.
Para pakar menilai China tidak memiliki kewajiban militer formal terhadap Iran, dan intervensi langsung berisiko merusak ekonomi global serta hubungan dengan AS—terutama menjelang kemungkinan pertemuan Trump-Xi Jinping.
Prioritas China tetap pada isu Taiwan, Laut China Selatan, dan reformasi militer internal. Konflik di Timur Tengah justru memberi Beijing pelajaran
tentang kelemahan sistem pertahanan Iran (yang banyak mengandalkan teknologi Rusia dan China), tanpa perlu terlibat langsung.
Beijing lebih memilih memainkan "long game": mengkritik AS-Israel sambil menjaga hubungan dengan semua pihak, termasuk negara-negara Teluk.
Batas Nyata "Poros Anti-Barat"
Meski sering disebut sebagai bagian dari "poros perlawanan" bersama Iran, Rusia dan China menunjukkan bahwa kemitraan mereka bersifat pragmatis, bukan aliansi militer seperti NATO.
Tidak ada klausul pertahanan bersama, dan kepentingan nasional masing-masing lebih diutamakan: Rusia terjebak di Ukraina, China fokus pada stabilitas ekonomi dan prioritas Asia-Pasifik.
Situasi ini menegaskan bahwa Iran, pada level militer langsung, harus menghadapi AS dan Israel secara mandiri.
Hingga 5 Maret 2026, tidak ada indikasi perubahan sikap signifikan dari Moskow atau Beijing. Konflik berpotensi berlangsung hingga delapan minggu,
menurut pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, sementara Rusia dan China terus mendorong de-eskalasi melalui jalur diplomatik.
Dengan demikian, meski retorika keduanya tajam, ketiadaan bantuan militer mencerminkan kalkulasi realistis: tidak ada yang mau mempertaruhkan perang dunia atau kehancuran ekonomi hanya demi mempertahankan rezim di Teheran.
Pasifnya Rusia dan China Membuat Israel dan Amerika Serikat Semakin Berani
Ketiadaan intervensi militer dari Rusia dan China—meskipun keduanya telah mengeluarkan kecaman keras—telah menciptakan persepsi kelemahan di kalangan "poros anti-Barat".
Sikap pasif ini memberikan ruang bagi AS dan Israel untuk melanjutkan operasi dengan intensitas tinggi tanpa khawatir akan konfrontasi langsung dengan kekuatan besar lain.
Para analis menilai bahwa ketidakmauan Moskow dan Beijing untuk melampaui retorika diplomatik justru memperkuat keyakinan Washington dan Tel Aviv bahwa risiko eskalasi global rendah.
Sehingga mendorong mereka untuk bertindak lebih agresif dalam mengejar tujuan strategis, termasuk penghancuran kemampuan militer Iran dan upaya perubahan rezim.
Hal ini menyoroti batas nyata kemitraan strategis: tanpa komitmen militer konkret, dukungan verbal saja tidak cukup untuk mencegah atau membatasi aksi koalisi AS-Israel.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan