RADAR SURABAYA – Pimpinan partai oposisi utama India, Mallikarjun Kharge dari Partai Kongres, mengecam keras respons pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi terhadap krisis Iran menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer Israel.
Dalam pernyataan resmi, Kharge menyebut pembunuhan tersebut sebagai “pembunuhan yang ditargetkan” tanpa deklarasi perang formal.
Ia menilai sikap pemerintah India tidak mencerminkan prinsip diplomasi non-blok dan kepentingan strategis nasional.
Isu ini langsung menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan luas mengenai posisi India di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Modi Desak Penghentian Permusuhan dalam Percakapan dengan Netanyahu
Di tengah tekanan politik dalam negeri, Modi melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Dalam komunikasi tersebut, Modi menekankan pentingnya penghentian permusuhan secepat mungkin serta perlindungan warga sipil.
“Situasi di Asia Barat menjadi perhatian mendalam bagi India. Kami selalu menyerukan dialog dan diplomasi sebagai jalan penyelesaian,” ujar Modi dalam pernyataan pemerintah dikutip dari DW News.
Pekan lalu, Modi juga melakukan kunjungan resmi ke Israel dan menyampaikan pidato di parlemen Israel (Knesset), yang menuai kritik dari oposisi karena dinilai kurang sensitif terhadap meningkatnya ketegangan regional.
Protes Meluas di Kashmir dan Sejumlah Kota
Dampak geopolitik konflik tersebut turut terasa di dalam negeri. Di Srinagar, wilayah Kashmir yang dikelola India, ribuan warga Syiah menggelar aksi protes atas kematian Khamenei.
Aparat keamanan membubarkan massa dengan gas air mata setelah demonstran berusaha menuju pusat kota. Pemerintah daerah memberlakukan pembatasan internet seluler sebagai langkah pencegahan.
Menteri Utama Jammu dan Kashmir, Omar Abdullah, menyerukan ketenangan dan meminta aparat menahan diri dalam menangani massa.
Aksi solidaritas juga dilaporkan terjadi di Lucknow, New Delhi, serta sejumlah negara bagian lain dengan populasi Syiah signifikan.
Dampak Konflik: Penerbangan Terganggu
Eskalasi konflik Timur Tengah turut berdampak pada sektor penerbangan internasional. Maskapai IndiGo mengumumkan pengoperasian 10
penerbangan bantuan khusus dari Jeddah, Arab Saudi, guna memfasilitasi pemulangan penumpang yang terdampak penutupan wilayah udara.
Sementara itu, Air India Express menyatakan sebagian rute ke kawasan Teluk masih ditangguhkan hingga kondisi memungkinkan.
Pemerintah India memastikan terus memantau keselamatan warga negaranya di kawasan konflik dan berkoordinasi dengan otoritas setempat.
India–Kanada Percepat Perjanjian Perdagangan Bebas
Di tengah dinamika geopolitik, India juga memperkuat hubungan ekonomi dengan Kanada. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dan Modi sepakat menargetkan penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif pada akhir 2026.
Kedua negara menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga 50 miliar dolar AS. Selain itu, disepakati pula kerja sama pasokan uranium jangka panjang untuk mendukung program energi nuklir India.
Posisi Strategis India di Tengah Konflik Timur Tengah
Konflik Israel–Iran menempatkan India dalam posisi diplomatik yang kompleks. Di satu sisi, India memiliki hubungan strategis yang kuat dengan Israel, termasuk di bidang pertahanan dan teknologi. Di sisi lain, India juga menjalin kemitraan energi dan ekonomi dengan negara-negara Teluk serta Iran.
Analis menilai pemerintah Modi berupaya menjaga keseimbangan diplomatik, namun tekanan politik domestik dapat memengaruhi arah kebijakan luar negeri ke depan.
Dengan meningkatnya ketegangan global, langkah India dalam beberapa hari mendatang akan menjadi penentu citra dan kepentingan strategisnya di panggung internasional.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan