RADAR SURABAYA – Ramadan di Mesir menghadirkan suasana semarak yang penuh warna. Tradisi yang telah berlangsung berabad-abad itu masih terjaga hingga kini, terutama di ibu kota, Kairo.
Bulan suci di Negeri Piramida bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga perayaan budaya yang menyatu dalam kehidupan masyarakat. Kawasan bersejarah, lentera warna-warni, hingga tradisi berbagi makanan menjadi pemandangan khas setiap Ramadan tiba.
Jejak Dinasti Fatimiyah di Islamic Cairo
Salah satu titik paling ramai saat Ramadan adalah kawasan yang dikenal sebagai Islamic Cairo atau Fatimid Cairo. Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah sejak 969 Masehi.
Baca Juga: Makam Air Mata Ibu Arosbaya, Jejak Bakti Ratu Ibu dan Dinasti Cakraningrat
Selama Ramadan, jalan-jalan bersejarah seperti Al-Muizz dan area sekitar Khan el-Khalili dipadati warga dan wisatawan. Usai salat tarawih, masyarakat tumpah ruah menikmati aneka kuliner, pertunjukan seni jalanan, hingga hiburan rakyat yang berlangsung hingga larut malam.
Atmosfer religius berpadu dengan denyut wisata budaya, menjadikan kawasan ini pusat perayaan Ramadan yang tak pernah sepi.
Fanus, Lentera Ikonik Ramadan
Ramadan di Kairo identik dengan fanus, lentera tradisional berwarna-warni yang menghiasi sudut-sudut kota. Tradisi ini diyakini telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah dan menjadi simbol kegembiraan menyambut bulan suci.
Fanus digantung di sepanjang jalan, pintu masuk bangunan, balkon rumah, hingga gang-gang kecil permukiman. Cahaya lampion yang berkilau pada malam hari membuat Kairo kerap dijuluki sebagai “kota sejuta lampu” saat Ramadan.
Baca Juga: Dinasti Assad: Permulaan, Kejatuhan, dan Masa Depan Suriah Setelahnya
Sajian Manis dan Meja Berbagi
Selain dekorasi, Ramadan di Mesir juga identik dengan sajian khas berbuka. Salah satu yang paling populer adalah Kunafa, kudapan manis berbahan adonan tipis dengan isian keju atau kacang yang disiram sirup gula.
Tradisi lain yang tak kalah penting adalah Mawa’ed al-Rahman, yakni penyediaan meja makan gratis di berbagai sudut kota untuk berbuka dan sahur. Warga yang mampu mendirikan tenda sederhana dan membagikan makanan kepada siapa saja, terutama masyarakat kurang mampu dan musafir.
Mawa’ed al-Rahman menjadi simbol solidaritas dan kemurahan hati. Semangat berbagi terasa kuat, memperlihatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ibadah personal, melainkan momentum mempererat kebersamaan sosial.
Ramadan di Mesir pada akhirnya bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merayakan warisan sejarah, budaya, dan nilai kemanusiaan yang telah hidup turun-temurun. (btl/fir)
Editor : M Firman Syah