Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 8 Orang, Gencatan Senjata 2024 Kembali Dilanggar

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 21 Februari 2026 | 05:39 WIB

Spanduk bergambar Abu Obeida, mantan juru bicara sayap bersenjata Hamas yang tewas di Gaza tahun lalu, terlihat di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh, dekat Sidon, Lebanon selatan.
Spanduk bergambar Abu Obeida, mantan juru bicara sayap bersenjata Hamas yang tewas di Gaza tahun lalu, terlihat di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh, dekat Sidon, Lebanon selatan.

RADAR SURABAYA- Lebanon kembali diguncang serangan militer Israel yang menewaskan sedikitnya delapan orang di wilayah timur dan selatan negara itu.

Serangan ini disebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan senjata 2024 dengan kelompok bersenjata Hezbollah.

Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), seperti dikutip Al Jazeera, serangan udara di Lembah Bekaa pada Jumat (20/2) menewaskan

sedikitnya enam orang dan melukai lebih dari 25 lainnya. Para korban luka telah dilarikan ke sejumlah rumah sakit di kawasan tersebut.

Serangan di Baalbek dan Ein el-Hilweh

Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan “pusat komando Hezbollah” di wilayah Baalbek.

Seorang sumber Hezbollah kepada AFP menyebutkan bahwa seorang pemimpin militer kelompok itu termasuk di antara korban tewas.

Pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dua orang tewas akibat serangan Israel di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh, kamp terbesar di Lebanon yang berada di pinggiran Kota Sidon.

NNA melaporkan bahwa sebuah drone Israel menargetkan kawasan Hittin di dalam kamp tersebut.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut serangan itu menyasar “pusat komando Hamas” yang digunakan untuk menjalankan operasi, sebagai respons atas dugaan pelanggaran kesepahaman gencatan senjata.

Kelompok Hamas mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa korban yang jatuh merupakan warga sipil.

Menurut NNA, bangunan yang terdampak sebelumnya digunakan oleh pasukan gabungan Palestina untuk menjaga keamanan kamp, tetapi kini difungsikan sebagai dapur umum yang mendistribusikan bantuan makanan.

Rekam Jejak Serangan Sejak Gencatan Senjata

Ketegangan antara Israel dan Hezbollah sejatinya mereda setelah gencatan senjata November 2024 yang bertujuan menghentikan lebih dari satu tahun konflik lintas perbatasan. Namun, serangan sporadis terus terjadi.

Baca Juga: Kejayaan Daulah Ayyubiyah, Dari Tikrit hingga Pembebasan Yerusalem

Data United Nations (PBB) mencatat lebih dari 10.000 serangan udara dan darat dilancarkan Israel dalam setahun sejak kesepakatan penghentian permusuhan diberlakukan.

Kantor HAM PBB pada November lalu menyatakan telah memverifikasi sedikitnya 108 korban sipil akibat serangan Israel pascagencatan senjata, termasuk 21 perempuan dan 16 anak-anak.

Sebelumnya, pada November tahun lalu, Israel juga melancarkan serangan besar di Ein el-Hilweh yang menewaskan 13 orang, termasuk 11 anak-anak, menurut laporan PBB.

 

Lebanon Ajukan Protes ke PBB

Pemerintah Lebanon telah mengajukan pengaduan resmi ke PBB terkait dugaan pelanggaran berulang oleh Israel.

Beirut mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menekan Israel agar menghentikan serangan dan menarik pasukan dari wilayah Lebanon.

Hingga kini, Israel dilaporkan masih menduduki lima titik di wilayah Lebanon selatan. Situasi tersebut menghambat rekonstruksi desa-desa perbatasan yang hancur serta menghalangi puluhan ribu warga yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.

Pada Minggu sebelumnya, Lebanon juga melaporkan empat orang tewas akibat serangan Israel di dekat perbatasan Suriah. Israel mengklaim serangan itu menargetkan anggota kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ).(rak)



Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#NNA #Al Jazeera #Kantor Berita Nasional Lebanon #Hezbollah #lebanon #hamas #serangan militer Israel