Di Gaza, “Board of Peace” Trump Disambut Skeptis dan Minim Harapan

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:53 WIB

Seorang anak di salah satu kamp pengungsian darurat di Deir el-Balah, Jalur Gaza tengah.
Seorang anak di salah satu kamp pengungsian darurat di Deir el-Balah, Jalur Gaza tengah.

RADAR SURABAYA– Saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Washington, DC, pada Kamis, warga Palestina di Jalur Gaza tidak memperdebatkan istilah diplomatik atau kerangka politik.

Di jalanan dan tenda-tenda pengungsian di Gaza bagian tengah dan selatan, tempat ratusan ribu warga Palestina berjuang untuk bertahan hidup,

satu pertanyaan sederhana mendominasi: apakah ada yang benar-benar berubah dalam realitas pahit di lapangan?

“Saya mendengar tentang dana yang dikumpulkan untuk Gaza, tetapi kami tidak melihat apa pun. Ini sudah sering terjadi, tetapi tidak ada yang berubah,” kata Amal Joudeh (43), yang kini tinggal di tenda pengungsian di Deir el-Balah tulis Al Jazeera.

Ia termasuk warga yang rumahnya hancur. “Saya masih tidak punya rumah. Suami dan anak-anak saya terluka.

Kami ingin dukungan, rekonstruksi, solusi apa pun,” ujar ibu delapan anak yang mengungsi dari Beit Lahiya di Gaza utara itu.

Janji Dana dan Pasukan Stabilisasi

Dalam pidatonya di Washington, Trump menyatakan sembilan negara anggota telah menjanjikan dana sebesar 7 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Gaza.

Lima negara juga sepakat mengirim pasukan ke dalam Pasukan Stabilisasi Internasional untuk wilayah Palestina.

Trump menambahkan Amerika Serikat akan menyumbang 10 miliar dolar AS untuk BoP, meski tidak merinci peruntukan dana tersebut.

Namun, total komitmen tersebut masih jauh di bawah estimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memperkirakan kebutuhan dana rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.

Gaza hancur akibat lebih dari dua tahun pemboman tanpa henti oleh Israel dalam perang yang disebut banyak pihak sebagai genosida.

Realitas di Lapangan

Sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Trump berlaku pada Oktober tahun lalu, sedikit perubahan dirasakan warga.

Sebagian besar warga Palestina masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Layanan kesehatan, pendidikan, dan sanitasi hampir tidak tersedia.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 600 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan.

Secara keseluruhan, lebih dari 72.000 orang dilaporkan tewas selama lebih dari dua tahun konflik.

“Israel terus membunuh, mengebom, melanggar gencatan senjata setiap hari, dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikan,” ujar Awad al-Ghoul (70), warga yang mengungsi dari Tal as-Sultan di Rafah dan kini tinggal di tenda di az-Zawayda.

Awad al-Ghoul, yang mengungsi dari Rafah di Gaza selatan satu setengah tahun lalu ke wilayah az-Zawayda di Jalur Gaza, memandang “Dewan Perdamaian” tidak lebih dari sekadar “klub negara-negara besar”.
Awad al-Ghoul, yang mengungsi dari Rafah di Gaza selatan satu setengah tahun lalu ke wilayah az-Zawayda di Jalur Gaza, memandang “Dewan Perdamaian” tidak lebih dari sekadar “klub negara-negara besar”.

Ia mempertanyakan efektivitas BoP. “Jika dewan sebesar ini tidak bisa memaksa Israel menghentikan serangan di tempat kecil seperti Gaza, bagaimana mungkin mereka menyelesaikan konflik di seluruh dunia?”

 

Skeptisisme atas Alokasi Dana

Sebagian warga meragukan dana yang dijanjikan benar-benar akan sampai ke Gaza.

“Sebagian kecil mungkin sampai ke Gaza. Sisanya untuk biaya administrasi dan gaji mewah pejabat tinggi,” kata al-Ghoul. Ia menilai proyek tersebut sejak awal tidak jelas arah dan visinya.

Jamal Abu Makhdeh (66) juga bersikap pesimistis. “Mereka tidak akan melakukan apa pun untuk Gaza. Ini hanya kebohongan untuk konsumsi media,” ujarnya.

Menurutnya, setiap keputusan yang disetujui Israel tidak akan menguntungkan rakyat Palestina. Ia juga menyoroti desakan perlucutan senjata Hamas dalam kesepakatan gencatan senjata sebagai agenda utama.

“Mereka ingin melucuti Hamas agar kami tenggelam dalam konflik internal,” katanya.

Rekonstruksi Belum Jelas

Meski banyak berbicara tentang stabilitas dan perdamaian, pengumuman BoP tidak memuat keputusan konkret mengenai rekonstruksi infrastruktur Gaza yang hancur.

Bagi al-Ghoul, rekonstruksi tidak berarti jika pelanggaran terus terjadi. “Apa gunanya membangun jika Israel terus menghancurkan?”

Sementara itu, Amal Joudeh berharap kehidupan kembali seperti dulu: sekolah dibuka kembali, anak-anak kembali belajar, dan keluarganya bisa meninggalkan tenda untuk tinggal di rumah yang layak.

Di tengah berbagai forum internasional dan janji politik, tuntutan warga Gaza tetap sederhana: keamanan, perdamaian, dan kesempatan kembali ke rumah mereka.

“Kami lelah. Tunjukkan belas kasihan. Kami hanya ingin hidup damai dan mendapatkan hak dasar atas rasa aman,” tutup Abu Makhdeh.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : Al Jazeera
palestina Al Jazeera donald trump gaza Board of Peace BOP