RADAR SURABAYA - Pemerintah China melalui Badan Ruang Siber (CAC) resmi meluncurkan operasi digital bertajuk “Qinglang” yang berlangsung selama satu bulan penuh menjelang Imlek 2026.
Kampanye ini secara tegas menargetkan konten digital yang dianggap merusak nilai sosial, termasuk konten pamer kekayaan (flexing), narasi anti-keluarga, dan konflik antargenerasi yang kerap viral di media sosial.
Berdasarkan laporan media pemerintah, CAC menyebut konten flexing seperti adu belanja kebutuhan Imlek dan pamer tradisi keluarga secara berlebihan sebagai pemicu kesenjangan sosial dan konflik ekonomi.
Konten semacam ini dinilai menonjolkan gaya hidup konsumtif dan memperkuat ketimpangan antarwarga.
Selain itu, konten bertema konflik keluarga seperti “orang tua pilih kasih”, “pertengkaran mertua dan menantu”, serta “perkelahian antarsaudara” juga akan ditertibkan karena dianggap mengeksploitasi emosi negatif demi popularitas.
“Konten pamer kekayaan dan konflik keluarga bukan hanya merusak suasana Imlek, tapi juga memperkuat ketimpangan sosial. Operasi Qinglang adalah langkah strategis untuk menjaga stabilitas psikologis masyarakat,” tegas juru bicara CAC.
CAC melabeli konten-konten tersebut sebagai “sampah digital” dan “konten berkualitas rendah” yang tidak sejalan dengan semangat Imlek sebagai momen kebersamaan keluarga.
“Operasi Qinglang bertujuan menciptakan ruang digital yang bersih dan harmonis selama libur Imlek. Kami ingin masyarakat menikmati waktu bersama keluarga tanpa gangguan konten provokatif,” imbuhnya.
CAC telah menginstruksikan seluruh platform digital untuk membentuk tim kerja khusus dan memperkuat pemantauan pada halaman utama, daftar pencarian populer, rekomendasi konten, linimasa, dan kolom komentar.
Konten yang mempromosikan takhayul seperti astrologi “Tai Sui”, ramalan nasib daring, dan ritual penolak kesialan juga masuk dalam daftar penertiban.
Tak hanya itu, perang antarpenggemar atau “fan circle” yang memanfaatkan momen Imlek seperti Gala Festival Musim Semi, film-film Imlek, dan ajang olahraga populer juga akan diawasi ketat.
Operasi Qinglang menjadi cerminan komitmen pemerintah China dalam menjaga etika digital dan memperkuat nilai-nilai keluarga di tengah tantangan sosial modern.
Dengan menertibkan konten flexing dan provokatif, China berharap ruang digital selama Imlek 2026 dapat menjadi tempat yang lebih sehat, inklusif, dan mendukung upaya peningkatan angka kelahiran yang kini menjadi perhatian nasional. (ant/nur)
Editor : Nurista Purnamasari