Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tragedi Longsor Tambang Koltan Rubaya Kongo, Lebih dari 200 Orang Tewas

Nurista Purnamasari • Minggu, 1 Februari 2026 | 15:22 WIB

 

Tambang koltan Rubaya di Republik Demokratik Kongo, menewaskan lebih dari 200 orang.
Tambang koltan Rubaya di Republik Demokratik Kongo, menewaskan lebih dari 200 orang.

RADAR SURABAYA - Tragedi longsor tambang koltan kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo (DRC). Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas dalam insiden runtuhnya tambang Rubaya yang terletak sekitar 60 kilometer barat laut Kota Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara. Tambang tersebut berada di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak M23.

Menurut juru bicara gubernur provinsi yang ditunjuk M23, Lumumba Kambere Muyisa, insiden terjadi pada Rabu (28/1), akibat tanah longsor saat musim hujan.

“Lebih dari 200 orang menjadi korban longsor ini, termasuk para penambang, anak-anak, dan perempuan pedagang pasar. Beberapa orang berhasil diselamatkan tepat waktu, namun mengalami luka serius,” ujarnya kepada Reuters, Jumat (30/1).

Muyisa menambahkan, sekitar 20 korban luka saat ini tengah dirawat di fasilitas kesehatan. “Kami sedang berada di musim hujan. Tanah sangat rapuh. Tanah itulah yang ambles saat para korban berada di dalam lubang tambang,” jelasnya.

Gubernur Provinsi Kivu Utara versi M23, Eraston Bahati Musanga, mengonfirmasi kepada AFP bahwa sejumlah jenazah telah berhasil ditemukan.

Sementara itu, penambang rakyat Franck Bolingo menyebut masih ada korban yang terjebak di dalam lorong tambang.

“Hujan turun, lalu terjadi longsor yang menyeret orang-orang. Sebagian terkubur hidup-hidup, dan lainnya masih terperangkap,” ungkapnya.

Tambang Rubaya menyumbang sekitar 15 persen produksi koltan dunia. Koltan diolah menjadi tantalum, logam tahan panas yang digunakan dalam industri ponsel, komputer, dirgantara, dan turbin gas.

Tambang ini digali secara manual oleh warga lokal dengan upah rendah, dan sejak 2024 berada di bawah kendali kelompok M23 yang didukung Rwanda.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuduh M23 menjarah sumber daya tambang Rubaya untuk mendanai pemberontakan mereka, tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Rwanda.

Seorang mantan penambang di lokasi yang sama, Clovis Mafare, menyoroti bahaya yang ada di sana.
Menurutnya, tanah longsor sering terjadi lantaran terowongan digali secara manual dengan tangan. Hal itu membuat konstruksi buruk, ditambah lagi kurangnya perawatan.

"Orang-orang menggali di mana-mana, tanpa kendali atau tindakan keselamatan. Di satu lubang galian, bisa ada sebanyak 500 penambang. Karena terowongan itu berjalan sejajar, satu runtuhan dapat memengaruhi banyak lubang galian," ujar Mafare.

Rubaya terletak di bagian timur Kongo. Wilayah ini dikenal kaya akan mineral. Kongo sendiri merupakan pemasok global yang penting untuk coltan. Nama terakhir merupakan biji logam hitam yang mengandung tantalum, komponen penting dalam pembuatan ponsel pintar, komputer, dan mesin pesawat terbang.

Pada tahun 2023 lalu, Kongo memproduksi sekitar 40 persen coltan dunia. Tambang Rubaya menyumbang lebih dari 15 persen pasokan tantalum global.

Meski memiliki kekayaan mineral yang melimpah, lebih dari 70 persen penduduk Kongo hidup dengan penghasilan kurang dari USD 2,15 per hari.

Tragedi ini kembali menyoroti ketimpangan ekonomi dan konflik sumber daya di wilayah timur negara tersebut. (net/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#penambang #korban meninggal #Rubaya #Koltan #kongo #tambang longsor