RADAR SURABAYA - Ibu kota Greenland, Nuuk, kembali dilanda pemadaman listrik massal (blackout) pada Sabtu (24/1) malam. Insiden yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat seluruh kota gelap gulita, menurut laporan resmi penyedia utilitas lokal Nukissiorfiit.
Dalam keterangan yang dirilis Minggu (25/1), Nukissiorfiit menyebut pemadaman listrik disebabkan oleh sebuah kecelakaan, namun tidak merinci detail peristiwa tersebut.
Pihak perusahaan menyatakan sedang berupaya menyediakan daya cadangan untuk memulihkan pasokan listrik.
“Kami berusaha keras mengaktifkan sistem cadangan agar layanan segera kembali normal. Prioritas kami adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” ujar juru bicara Nukissiorfiit.
Pihak kepolisian Greenland juga mengonfirmasi adanya kecelakaan yang memicu pemadaman, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai penyebab teknis.
Kejadian ini menambah daftar insiden serupa, karena Nuuk sebelumnya mengalami pemadaman listrik massal pada awal Januari 2026.
Pemadaman listrik yang berulang menimbulkan keresahan di kalangan warga Nuuk. Sejumlah penduduk mengeluhkan terganggunya aktivitas sehari-hari, termasuk layanan transportasi, komunikasi, dan distribusi logistik.
“Kami khawatir jika pemadaman terus terjadi, terutama di musim dingin ketika suhu bisa turun drastis. Listrik adalah kebutuhan vital,” kata seorang warga Nuuk kepada media lokal.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah otoritas Greenland memperbarui pedoman kesiapsiagaan darurat.
Langkah tersebut diambil sebagai antisipasi terhadap meningkatnya perhatian internasional, termasuk minat Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark.
Pemerintah setempat menekankan pentingnya infrastruktur energi yang stabil sebagai bagian dari strategi keamanan nasional.
Greenland, yang sebagian besar bergantung pada energi hidroelektrik, menghadapi tantangan besar dalam menjaga keandalan pasokan listrik di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Menurut data Nukissiorfiit, sistem distribusi listrik di Nuuk melayani lebih dari 19.000 penduduk. Gangguan berulang dapat berdampak pada sektor ekonomi, termasuk perikanan dan pariwisata, yang menjadi tulang punggung wilayah tersebut.
Warga berharap langkah cepat diambil agar insiden serupa tidak kembali mencederai aktivitas kota. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari