RADAR SURABAYA - Paus Leo XIV menggelar pertemuan dengan para kardinal dari seluruh dunia pada pekan ini. Dalam pidato penutup konsistori tertutup yang berlangsung selama dua hari, Paus menekankan bahwa Gereja Katolik harus memberi ruang bagi para korban pelecehan seksual untuk didengar, karena kasus tersebut masih menjadi luka mendalam yang belum sembuh.
Dilansir AFP, Minggu (11/1), Paus Leo menyebut pelecehan terhadap anak-anak maupun orang dewasa yang rentan oleh oknum imam merupakan masalah serius yang terus membayangi Gereja.
“Mendengarkan sangat penting. Kita tidak bisa menutup mata kita, atau hati kita,” kata Paus Leo berdasarkan transkrip resmi Vatikan.
Ia menegaskan bahwa meski pelecehan bukan topik utama konsistori, dirinya sengaja mengangkat isu tersebut dalam pidato penutup.
“Masalah ini hingga kini masih menjadi luka dalam kehidupan Gereja di banyak tempat,” ujarnya.
Paus juga mengingatkan bahwa penderitaan korban sering kali diperparah karena mereka tidak diterima atau didengarkan oleh pihak gereja.
“Pelecehan itu sendiri menyebabkan luka yang dalam yang dapat berlangsung seumur hidup. Tetapi seringkali skandal di Gereja terjadi karena pintu telah ditutup dan para korban tidak diterima,” tegas Paus Leo.
Dalam kesempatan itu, Paus mengungkapkan cerita seorang korban kepadanya. “Seorang korban baru-baru ini mengatakan kepada saya bahwa hal yang paling menyakitkan baginya adalah tidak ada uskup yang mau mendengarkannya,” ucapnya.
Konsistori yang digelar pada Rabu dan Kamis dihadiri sekitar 170 kardinal dari berbagai negaraja. “Mendengarkan sangat penting. Kita tidak bisa menutup mata kita, atau hati kita,” kata Paus Leo berdasarkan transkrip resmi Vatikan.
Ia menegaskan bahwa meski pelecehan bukan topik utama konsistori, dirinya sengaja mengangkat isu tersebut dalam pidato penutup.
“Masalah ini hingga kini masih menjadi luka dalam kehidupan Gereja di banyak tempat,” ujarnya.
Paus juga mengingatkan bahwa penderitaan korban sering kali diperparah karena mereka tidak diterima atau didengarkan oleh pihak gereja.
“Pelecehan itu sendiri menyebabkan luka yang dalam yang dapat berlangsung seumur hidup. Tetapi seringkali skandal di Gereja terjadi karena pintu telah ditutup dan para korban tidak diterima,” tegas Paus Leo.
Dalam kesempatan itu, Paus mengungkapkan cerita seorang korban kepadanya. “Seorang korban baru-baru ini mengatakan kepada saya bahwa hal yang paling menyakitkan baginya adalah tidak ada uskup yang mau mendengarkannya,” ucapnya.
Konsistori yang digelar pada Rabu dan Kamis dihadiri sekitar 170 kardinal dari berbagai negara.
Pertemuan ini menjadi konsistori pertama sejak Paus Leo XIV terpilih menggantikan Paus Fransiskus pada Mei 2025.
Agenda utama membahas arah masa depan Gereja Katolik, namun Paus menutup dengan penekanan khusus pada isu pelecehan seksual. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari