RADAR SURABAYA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Venezuela telah menyerahkan minyak mentah senilai sekitar USD 2 miliar atau setara Rp 33 triliun kepada Amerika Serikat (AS).
Pernyataan ini memicu kontroversi internasional karena dinilai sebagai bagian dari kesepakatan yang berpotensi mengalihkan pasokan minyak Venezuela dari China.
Trump menyebut minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar dan hasil penjualannya dikendalikan langsung oleh pemerintah AS.
“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahan daring, Selasa (6/1).
Perusahaan Minyak Negara Venezuela, PDVSA (Petróleos de Venezuela, S.A.), belum memberikan komentar resmi terkait klaim Trump.
PDVSA yang berdiri sejak 1976 merupakan tulang punggung ekonomi Venezuela, mengelola seluruh sektor minyak dan gas mulai dari eksplorasi hingga ekspor.
Kesepakatan ini muncul di tengah tekanan besar Washington terhadap Caracas, menyusul operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro akhir pekan lalu.
Sejumlah pejabat Venezuela menyebut penangkapan itu sebagai penculikan dan menuduh AS berupaya menguasai cadangan minyak negara tersebut.
Reuters melaporkan bahwa pasokan minyak yang dialihkan ke AS kemungkinan berasal dari kargo yang awalnya ditujukan ke China, mitra utama Venezuela sejak sanksi perdagangan minyak dijatuhkan AS pada 2020.
Setelah pengumuman Trump, harga minyak mentah AS turun lebih dari 1,5 persen karena ekspektasi meningkatnya pasokan dari Venezuela.
BBC menambahkan, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menegaskan bahwa tidak ada pihak asing yang berhak mengatur Venezuela. Ia menyebut operasi militer AS sebagai agresi ilegal dan pelanggaran hukum internasional.
“Pemerintahan Venezuela tetap berdaulat dan dijalankan oleh rakyatnya sendiri,” tegas Rodríguez.
Saat ini, ekspor minyak Venezuela ke AS sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra utama PDVSA, dengan volume sekitar 100.000–150.000 barel per hari di bawah otorisasi AS.
Namun, belum jelas apakah Venezuela akan memperoleh akses langsung ke hasil penjualan minyak tersebut, mengingat sanksi AS telah membekukan rekening PDVSA dan membatasi transaksi dolar. (bbc/nur)
Editor : Nurista Purnamasari