RADAR SURABAYA - Awal tahun 2026 diwarnai tragedi di India bagian tengah setelah pasokan air keran di kawasan Bhagirathpura, Indore, Madhya Pradesh, diduga tercemar limbah.
Sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dan ratusan lainnya, termasuk anak-anak, jatuh sakit akibat wabah diare dan muntah.
Pemerintah negara bagian menyebut insiden ini sebagai “situasi darurat” dan langsung mengambil langkah penanganan cepat.
Warga Bhagirathpura mengaku telah mengeluhkan air keran berbau busuk selama seminggu terakhir.
Namun, keluhan berulang kali kepada Indore Municipal Corporation (IMC) tidak segera ditindaklanjuti.
“Air yang keluar dari keran berbau busuk dan kotor. Kami sudah melapor, tetapi tidak ada tindakan cepat,” kata salah satu warga kepada media lokal.
Investigasi awal menduga kebocoran limbah dari toilet polisi setempat merembes ke pipa air minum utama. Akibatnya, air bersih tercampur limbah dan memicu wabah penyakit.
Hingga Kamis (1/1), lebih dari 162 pasien masih dirawat di 27 rumah sakit, dengan 26 di antaranya dalam kondisi kritis.
Menteri Utama Madhya Pradesh, Mohan Yadav, menyebut insiden ini sebagai darurat kesehatan.
“Kami akan memberikan kompensasi 200.000 rupee untuk keluarga korban meninggal, perawatan gratis bagi semua pasien, serta penyediaan air bersih melalui tangki dan tablet klorin,” ujar Yadav saat mengunjungi rumah sakit bersama Menteri Pembangunan Perkotaan dan Perumahan, Kailash Vijayvargiya.
Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh juga turun tangan, memerintahkan laporan status rutin mulai 2 Januari 2026 dan memastikan perawatan gratis di rumah sakit swasta bagi seluruh korban.
Kasus ini memicu kontroversi setelah Vijayvargiya mengeluarkan pernyataan kasar kepada wartawan NDTV yang menanyakan tanggung jawab pejabat senior. Video konfrontasi tersebut viral di media sosial dan menuai kritik tajam dari oposisi.
“Saya menyesal atas kata-kata saya. Ada kesalahan oleh pejabat, dan tindakan tegas akan diambil tanpa pandang bulu,” tulis Vijayvargiya dalam permintaan maafnya di media sosial.
Selain itu, perbedaan data jumlah korban juga menjadi sorotan. Media lokal melaporkan 13 korban tewas dan lebih dari 1.000 orang sakit, sementara pemerintah negara bagian menyebut angka resmi lebih rendah, yakni 3–10 korban jiwa.
“Saya tidak dapat berkomentar tentang jumlah korban tewas pada saat ini,” ujar Vijayvargiya kepada wartawan, menutup polemik yang masih bergulir. (ndt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari