RADAR SURABAYA - Sejumlah konser musisi Jepang di China mendadak dibatalkan pekan ini menyusul meningkatnya ketegangan diplomatik antara Beijing dan Tokyo.
Langkah ini menandai bagaimana isu politik bilateral kini merembet ke ranah budaya dan hiburan, memukul penggemar musik Jepang di Tiongkok.
Pembatalan konser terjadi di berbagai kota besar, termasuk Beijing. Salah satu musisi yang terdampak adalah Yoshio Suzuki, legenda jazz Jepang berusia 80 tahun, yang terpaksa menghentikan persiapan konser setelah polisi berpakaian sipil memerintahkan penghentian acara.
“Kurang dari satu menit, pemilik venue datang dan mengatakan polisi memerintahkan semua konser dengan orang Jepang dibatalkan, tanpa ada negosiasi,” ujar Christian Petersen-Clausen, promotor konser asal Jerman.
Selain Suzuki, konser penyanyi-penulis lagu Jepang Kokia dan grup idol JO1 juga dibatalkan secara mendadak.
Penyelenggara menyebut alasan “masalah teknis”, namun publik menilai keputusan itu terkait langsung dengan ketegangan politik.
Banyak penggemar yang sudah menunggu di lokasi merasa kecewa dan meluapkan frustrasi di media sosial.
Pemicu utama kebijakan ini adalah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait isu Taiwan, yang memancing kemarahan Beijing.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan Tiongkok dan memicu efek domino berupa pembatasan pertukaran budaya.
Kebijakan ini tidak hanya memukul musisi Jepang, tetapi juga penggemar di Tiongkok yang kehilangan kesempatan menikmati karya idola mereka. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari