RADAR SURABAYA - Ribuan orang berkumpul pada hari Minggu (16/11/2025) untuk memulai demonstrasi tiga hari yang diselenggarakan di ibu kota Filipina, Manila, guna menuntut pertanggungjawaban atas skandal korupsi pengendalian banjir yang telah melibatkan anggota Kongres dan pejabat tinggi pemerintah yang berpengaruh.
Ini merupakan unjuk rasa terbaru atas tuduhan korupsi yang meluas dalam proyek-proyek pengendalian banjir di salah satu negara paling rawan topan di dunia. Demonstrasi ini meletus dalam beberapa bulan terakhir menyusul terungkapnya ribuan proyek pertahanan banjir di seluruh negeri yang terbuat dari material di bawah standar atau bahkan tidak ada sama sekali.
Baca Juga: Badai Musim Dingin Hantam Gaza, Ratusan Ribu Keluarga Butuh Tenda Darurat
Perusahaan konstruksi dituduh memberikan suap besar-besaran kepada puluhan politisi dan pejabat berpengaruh untuk memenangkan kontrak-kontrak menguntungkan dan menghindari pertanggungjawaban atas anomali dalam proyek-proyek tersebut.
Pengendalian banjir merupakan isu yang sangat sensitif di Filipina, salah satu negara Asia yang paling rentan terhadap topan mematikan, banjir, dan cuaca ekstrem.
Analisis laporan menunjukkan bahwa demonstrasi skala besar ini tidak hanya mencerminkan kemarahan publik atas korupsi infrastruktur, tetapi juga menyoroti tuntutan mendesak masyarakat Filipina akan integritas politik dan mekanisme akuntabilitas.
Baca Juga: Kasus Perundungan Marak dan Memakan Korban, Mendikdasmen Siapkan Tim Anti-Bullying
Skandal ini telah memicu kemarahan publik yang muak dengan korupsi, yang kemudian turun ke jalan sebagai bentuk protes. Skandal ini juga telah menghancurkan kepercayaan, dan dianggap sebagai alasan utama di balik pertumbuhan ekonomi yang mencapai titik terendah dalam empat tahun pada kuartal September.
Memburuknya ketidakpastian politik dalam negeri yang dipicu oleh pengungkapan korupsi juga telah mengguncang sentimen investor. Peso baru-baru ini jatuh ke rekor terendah terhadap dolar sementara saham anjlok sehingga menjadikan Filipina sebagai pasar dengan kinerja terburuk di dunia. (*)
Editor : Lambertus Hurek