Radar Surabaya – Dunia ilmu pengetahuan diguncang oleh temuan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science. Rekonstruksi digital atas tengkorak berusia sekitar satu juta tahun mengungkap bahwa perjalanan evolusi manusia tidak sepenuhnya sesuai dengan teori lama yang selama ini diyakini.
Hasil studi menunjukkan manusia kemungkinan berevolusi 400 ribu tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Lebih mengejutkan lagi, pusat evolusi itu diduga bukan Afrika, melainkan Asia.
Temuan berfokus pada fosil yang ditemukan pada 1990 dan dikenal sebagai Yunxian 2. Awalnya dikategorikan sebagai Homo erectus, namun melalui teknologi modern seperti CT scan, pencitraan cahaya terstruktur, dan rekonstruksi virtual, ilmuwan menemukan ciri lebih dekat dengan Homo longi dan Homo sapiens.
"Temuan ini mengubah banyak pemikiran," ujar antropolog dari Natural History Museum, Chris Stringer, London, yang terlibat dalam riset tersebut, Selasa (30/9).
"Hal ini memperlihatkan bahwa sekitar satu juta tahun lalu, leluhur manusia sudah terbagi ke dalam kelompok berbeda. Artinya, percabangan evolusi manusia berlangsung lebih awal dan lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan," tambahnya.
Xijun Ni, profesor Universitas Fudan sekaligus pemimpin penelitian, mengaku terkejut.
"Sejak awal sulit dipercaya, bagaimana mungkin ini terjadi di masa lampau? Tapi setelah menguji ulang model dan metode, kini kami yakin dengan temuan ini. Kami sangat bersemangat," ungkapnya.
Jika terbukti, penelitian ini menandakan adanya nenek moyang awal dari kelompok lain, termasuk Neanderthal dan Homo sapiens, yang muncul lebih dini. Hal ini sekaligus menantang teori lama bahwa manusia purba hanya menyebar dari Afrika.
"Ini bisa menjadi perubahan besar. Asia Timur kini memegang peran penting dalam evolusi hominin," kata Direktur Pusat Penelitian Evolusi Manusia di Griffith University, Michael Petraglia, Australia, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
Untuk memperkuat kesimpulan, tim membandingkan model Yunxian 2 dengan lebih dari 100 spesimen lain. Hasilnya menunjukkan ciri unik, bagian wajah bawah menonjol seperti Homo erectus, namun kapasitas otak lebih besar, mendekati Homo longi dan Homo sapiens.
Meski demikian, sejumlah pakar masih berhati-hati. Andy Herries, arkeolog dari La Trobe University, menilai bentuk fosil tidak selalu mencerminkan sejarah genetik secara langsung. Ahli genetika evolusi dari Universitas Cambridge, Aylwyn Scally, juga menekankan perlunya data genetik tambahan agar temuan dapat diterima secara luas.
Baca Juga: Jokowi Minta Menteri Cari Skema Biayai Transisi Energi Fosil ke EBT
Penelitian ini semakin memperkaya kompleksitas kajian asal-usul manusia. Sebelumnya, Homo longi atau "Manusia Naga" baru ditetapkan sebagai spesies baru pada 2021 oleh tim yang juga melibatkan Stringer.
"Fosil seperti Yunxian 2 menunjukkan betapa masih banyak yang harus kita pelajari tentang asal-usul kita," tutup Stringer. (gab/fir)
Editor : M Firman Syah