Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kunjungan Donald Trump ke Inggris Disambut Protes: "Tolak Rasisme, Tolak Trump"

Rahmat Adhy Kurniawan • Kamis, 18 September 2025 | 10:33 WIB
Orang-orang memegang boneka tiup bergambar Presiden AS Donald Trump selama protes dan demonstrasi
Orang-orang memegang boneka tiup bergambar Presiden AS Donald Trump selama protes dan demonstrasi

RADAR SURABAYA – Kunjungan kenegaraan kedua Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke Inggris memicu gelombang protes di London dan Windsor.

Ratusan demonstran turun ke jalan, mengecam dukungan AS terhadap apa yang disebut kelompok hak asasi manusia sebagai "genosida berkelanjutan terhadap rakyat Palestina".

Aksi ini menjadi kontras nyata dengan sambutan megah di Kastil Windsor, tempat pemerintah Inggris menggelar karpet merah untuk Trump.

Protes Anti-Trump di Jantung London

Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di Portland Place, pusat kota London, dekat Gedung Penyiaran BBC.

Mereka membawa spanduk bertuliskan "Tolak Rasisme, Tolak Trump" dan replika kecil dari "balon udara bayi Trump", ikon protes saat kunjungan pertamanya pada 2019.

Demonstrasi berlanjut dengan pawai menuju Whitehall dan Parliament Square, menarik perhatian publik dan media internasional.

Pada hari Rabu, aksi protes bergeser ke Kastil Windsor, sekitar 40 kilometer dari pusat kota London.

Menurut Milena Veselinovic dari Al Jazeera, acara resmi sengaja digelar jauh dari London untuk melindungi Trump dari sorotan protes.

Namun, semangat demonstran tidak surut, dengan Koalisi Stop Trump tetap menggelar aksi di sekitar kastil berusia 1.000 tahun tersebut.

Tuntutan Demonstran: Hentikan Dukungan untuk Genosida

Kelompok penyelenggara seperti Stop the War menyuarakan kemarahan mereka melalui platform X: "Penyangkal genosida tidak diterima! Tolak kunjungan kenegaraan Trump! Tuntut AS dan Inggris hentikan pengiriman senjata ke Israel,

negara pelaku genosida!" Kampanye Solidaritas Palestina juga mengajak warga Inggris untuk menentang kunjungan ini, menyebut Trump sebagai "otoriter rasis" dan "penghasut perang".

Rory Challands, wartawan Al Jazeera yang melaporkan dari lokasi protes, menggambarkan suasana sebagai "kontras dari kemegahan kerajaan di Windsor".

Ia menambahkan, "Ini adalah Inggrisnya kaum kiri, serikat buruh, kelompok lingkungan, dan pendukung Palestina.

Mereka menolak kehadiran Trump, yang dituduh menghancurkan hak asasi manusia, mengingkari perubahan iklim, dan memungkinkan genosida di Gaza."

Kontroversi di Windsor: Proyeksi Gambar Trump dan Epstein

Meskipun ada upaya untuk mengisolasi Trump dari protes, ratusan demonstran dari Koalisi Stop Trump berhasil menggelar aksi di luar Kastil Windsor.

Kepolisian Thames Valley menangkap empat orang atas dugaan komunikasi jahat setelah mereka memproyeksikan gambar Trump bersama Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual anak yang meninggal bunuh diri di penjara New York pada 2019, ke dinding kastil.

Sebuah van dengan iklan serupa juga menjadi sorotan, meskipun polisi menyatakan tidak ada penangkapan atau penyitaan kendaraan terkait insiden tersebut.

Sambutan Kerajaan vs. Kemarahan Publik

Sementara demonstrasi berlangsung, pemerintah Inggris menggelar sambutan mewah untuk Trump, termasuk pertemuan dengan eksekutif bisnis AS dan upacara resmi untuk mempererat hubungan perdagangan.

Namun, kunjungan ini terjadi di tengah tantangan politik bagi Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Baru-baru ini, Starmer memecat Duta Besar Inggris untuk Washington, Peter Mandelson, menyusul kontroversi terkait hubungannya dengan Epstein.

Persahabatan Trump dengan Epstein juga kembali menjadi sorotan, menambah panas suasana politik.

Mengapa Protes Anti-Trump Penting?

Protes ini mencerminkan ketegangan global terkait kebijakan Trump, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Demonstran menuduhnya sebagai figur sentral gerakan sayap kanan yang menghambat demokrasi.

Dengan spanduk, pawai, dan proyeksi visual, aksi ini tidak hanya menargetkan Trump, tetapi juga mengkritik pemerintah Inggris yang dianggap memuliakan tokoh kontroversial tersebut.

Kesimpulan 

Kunjungan Trump ke Inggris pada September 2025 tidak hanya menarik perhatian karena kemegahan kerajaan, tetapi juga karena gelombang protes yang mengguncang London dan Windsor.

Dengan pesan "Tolak Rasisme, Tolak Trump", demonstran menegaskan penolakan mereka terhadap kebijakan Trump dan menyerukan solidaritas global untuk isu-isu seperti hak asasi manusia dan perdamaian.

Di tengah sorotan media dan kontroversi, kunjungan ini menjadi cerminan polarisasi politik yang terus berlanjut.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Tolak Rasisme #palestina #donald trump #kunjungan Trump ke Inggris #genosida #Kastil Windsor