RADAR SURABAYA – Setidaknya 20 orang, termasuk lima wartawan yang bekerja di media internasional, tewas dalam serangan ganda Israel di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza bagian selatan.
Wilayah ini dikuasai oleh Hamas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Insiden ini menambah daftar panjang korban dalam konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.
Para wartawan tersebut bekerja untuk kantor berita internasional seperti Associated Press (AP), Reuters, Al Jazeera, dan Middle East Eye, seperti dikonfirmasi oleh media-media tersebut.
Empat petugas medis juga tewas dalam serangan ini, menurut kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Video yang merekam serangan menunjukkan serangan kedua dari Israel menyasar tim penyelamat yang tiba di rumah sakit setelah serangan pertama.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut insiden itu sebagai "kecelakaan tragis", seraya mengatakan otoritas militer Israel sedang "melakukan penyelidikan menyeluruh".
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil secara sengaja, tetapi menargetkan teroris Hamas yang beroperasi dari dalam rumah sakit, yang melanggar hukum internasional.
Korban Wartawan dan Dampaknya terhadap Kebebasan Pers
Kematian lima wartawan ini menambah daftar panjang jumlah wartawan yang tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, mencapai sekitar 200 orang.
Badan terkemuka yang mengedepankan kebebasan pers, Committee to Protect Journalists (CPJ), mencatat konflik di Gaza adalah yang paling mematikan bagi wartawan.
CPJ mencatat bahwa selama dua tahun terakhir, angka kematian wartawan di Gaza melebihi total kematian wartawan yang tercatat secara global dalam tiga tahun sebelumnya.
Sejak perang dimulai, Israel telah melarang wartawan internasional untuk masuk ke Jalur Gaza secara mandiri.
Kendati sejumlah wartawan dibawa oleh IDF ke Gaza dengan akses terbatas, media internasional sangat bergantung pada wartawan lokal untuk sebagian besar liputan mereka di sana.
Video dari lokasi serangan pada Senin (25/08/2025) menunjukkan seorang dokter di pintu masuk rumah sakit utama di Gaza selatan sedang memperlihatkan pakaian berlumuran darah kepada para wartawan, menyusul serangan pertama.
Tiba-tiba terjadi ledakan yang membuat orang-orang berlarian mencari perlindungan. Terlihat seorang pria yang terluka akibat ledakan itu berusaha menyeret dirinya sendiri untuk mencari tempat aman.
Video lain yang direkam secara langsung oleh Al-Ghad TV menunjukkan beberapa tenaga medis dan gawat darurat sedang berjibaku dengan
dampak serangan pertama di dekat lantai atas Rumah Sakit Nasser, sementara sejumlah wartawan di belakang mereka merekam kejadian tersebut.
Dalam rekaman video itu, terlihat sebuah tangga tempat para wartawan sering berkumpul untuk melihat pemandangan Kota Khan Younis.
Sebuah serangan kemudian langsung mengenai para petugas medis dan wartawan, mengakibatkan asap dan puing beterbangan. Setelah kejadian, setidaknya satu jenazah terlihat.
Identitas Korban dan Respons Media
Kantor berita Reuters melaporkan juru kameranya, Husam al-Masri, termasuk di antara korban tewas. Masri, yang sedang mengoperasikan siaran
langsung dari atap, tewas seketika saat serangan pertama terjadi, menyebabkan siaran tersebut terputus.
Saksi mata juga mengatakan bahwa Hatem Khaled, fotografer lepas yang bekerja untuk Reuters, terluka dalam serangan kedua.
Sementara itu, Associated Press (AP) menyebut wartawan lepas yang melaporkan untuk kantor berita ini, Mariam Dagga, termasuk dari wartawan yang tewas dalam serangan.
Kantor berita itu menyatakan "terkejut dan sedih" atas kematian wartawan perempuan berusia 33 tahun tersebut.
Wartawan lain yang tewas dalam serangan itu adalah Mohammad Salama yang bekerja untuk Al Jazeera, serta wartawan Ahmed Abu Aziz dan fotografer Moaz Abu Taha yang bekerja untuk Middle East Eye.
Jaringan televisi AS, NBC, menyatakan Taha tidak bekerja untuk mereka seperti yang dilaporkan sebelumnya.
Sementara Reuters menyebut Taha telah bekerja untuk beberapa organisasi media sebelumnya, termasuk untuk kantor berita ini.
Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas menyebut salah satu anggotanya sebagai korban dalam serangan di rumah sakit tersebut, lapor kantor berita AFP.
Hadil Abu Zaid, petugas program dari badan amal asal Inggris, Medical Aid for Palestinians, menyatakan dalam sebuah pernyataan kepada media bahwa ia sedang mengunjungi Unit Perawatan Intensif (ICU) "ketika ledakan-ledakan terjadi di ruang operasi tepat di sebelah kami".
"Korban tewas dan luka ada di mana-mana," ujarnya, seraya menambahkan bahwa apa yang ia lihat "sangat memprihatinkan".
Kecaman Internasional
Tak lama setelah insiden, kecaman keras terhadap serangan tersebut bermunculan. "Pembunuhan mengerikan terbaru ini menyoroti risiko besar yang
dihadapi tenaga medis dan wartawan saat mereka menjalankan tugas penting di tengah konflik brutal ini," kata Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.
Dia menuntut dilakukannya "penyelidikan yang cepat dan tidak memihak" selain "gencatan senjata yang segera dan permanen".
Kepala badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyatakan banyaknya kematian wartawan dalam konflik di Gaza "membungkam suara-suara terakhir yang melaporkan tentang anak-anak yang sekarat secara perlahan di tengah kelaparan".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy mengatakan dia "ngeri" dengan serangan mematikan itu, yang disebut oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai "tidak dapat ditoleransi".
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan dia "tidak senang" dengan serangan tersebut dan menekankan perlunya mengakhiri "mimpi buruk" itu.
Serangan pada Senin (25/08/2025) terjadi dua pekan setelah enam wartawan—empat di antaranya wartawan Al Jazeera—tewas dalam serangan Israel di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza.
Berdasarkan pernyataan dari kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza pada Senin, ada 58 jenazah korban serangan Israel yang telah tiba di rumah sakit Gaza dalam sehari terakhir.
Selain itu, disebutkan juga masih ada banyak jenazah yang tidak dapat dijangkau karena tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang runtuh.
Kementerian kesehatan mengatakan jumlah jenazah itu termasuk 28 orang yang meninggal dunia saat mencoba mendapatkan pasokan bantuan makanan di lokasi pendistribusian bantuan.
Rumah sakit juga mencatat tambahan 11 orang meninggal dunia akibat malnutrisi—termasuk dua anak-anak—menurut kementerian kesehatan. Ini menambah korban jiwa akibat malnutrisi mencapai 300 orang—termasuk 117 anak-anak.
Konflik ini terus menarik perhatian global, dengan seruan untuk penyelidikan independen dan gencatan senjata.
Sementara IDF menegaskan operasi mereka ditargetkan pada infrastruktur teroris, namun kelompok hak asasi manusia menyebut serangan terhadap fasilitas medis sebagai potensi kejahatan perang.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan