Radar Surabaya – Perusahaan fotografi legendaris asal Amerika Serikat, Eastman Kodak Company, dilaporkan menghadapi ancaman serius terhadap kelangsungan operasionalnya akibat beban utang yang menumpuk. Dalam pernyataan kepada investor, perusahaan menyampaikan bahwa mereka tidak lagi memiliki dana untuk membayar utang yang mencapai sekitar US\$500 juta atau setara dengan Rp8 triliun.
Mengutip laporan Media Internasional, Kamis (14/8), situasi keuangan ini telah memunculkan keraguan besar terhadap kemampuan Kodak untuk tetap melanjutkan bisnisnya.
“Pada kondisi seperti ini menimbulkan keraguan besar terhadap kemampuan perusahaan untuk terus beroperasi,” tulis pernyataan tersebut.
Meski demikian, bisnis utama Kodak saat ini tidak terdampak oleh tarif perdagangan yang berlaku di Amerika Serikat, mengingat mayoritas produk seperti kamera, film, dan tinta diproduksi langsung di dalam negeri.
CEO Kodak, Jim Continenza, tetap menyampaikan pandangan optimis terhadap rencana jangka panjang perusahaan.
“Pada kuartal kedua, Kodak terus mencapai kemajuan dalam rencana jangka panjang kami meskipun menghadapi tantangan lingkungan bisnis yang tidak menentu,” ujarnya.
Ancaman kebangkrutan bukan kali pertama bagi Kodak. Pada 2012, perusahaan ini pernah mengajukan permohonan pailit setelah gagal beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Saat itu, Kodak memiliki sekitar 100.000 kreditor dengan total utang sebesar US\$6,75 miliar.
Namun, pada 2020, perusahaan sempat memperoleh angin segar setelah pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan untuk mengalihkan sebagian bisnisnya menjadi produsen bahan baku farmasi. Langkah tersebut mendorong harga saham Kodak melonjak secara signifikan.
Didirikan pada tahun 1888 oleh George Eastman, Kodak menjadi pionir dalam industri fotografi global. Pada dekade 1970-an, perusahaan ini menguasai sekitar 90% pangsa pasar film dan 85% pasar kamera di Amerika Serikat.
Meskipun hingga kini Kodak masih bertahan, sebagian besar karena nilai historis dan kecintaan para pecinta fotografi analog terhadap merek tersebut, namun pengamat menilai bahwa nostalgia semata tidak cukup untuk menjamin kelangsungan perusahaan di tengah tekanan bisnis modern. (akr/mel/fir)
Editor : M Firman Syah