Radar Surabaya - Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali memuncak menyusul insiden baku tembak di perbatasan yang menyebabkan jatuhnya korban sipil. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak pemicu konflik yang terjadi pada awal pekan ini.
Dalam pernyataan resmi, Angkatan Darat Thailand mengklaim bahwa insiden dipicu oleh keberadaan drone pengintai yang diduga milik Kamboja, terbang di atas wilayah otoritas militer Thailand. Ketegangan meningkat ketika sejumlah tentara Kamboja bersenjata lengkap mendekati pagar kawat berduri yang menjadi batas teritorial dekat pangkalan militer Thailand.
"Pasukan kami hanya berada dalam posisi siaga ketika mendeteksi drone dan melihat pergerakan mencurigakan dari arah Kamboja. Namun, pihak Kamboja yang lebih dulu melepaskan tembakan," ungkap juru bicara Angkatan Darat Thailand, Rabu (23/7).
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Kamboja menyampaikan versi berbeda. Mereka menuduh Thailand melakukan serangan udara terlebih dahulu dengan menjatuhkan dua bom di area permukiman warga Kamboja. Phnom Penh menyebut aksi tersebut sebagai agresi militer yang melanggar kedaulatan dan hukum internasional.
"Thailand telah melakukan serangan udara tanpa deklarasi perang. Ini adalah tindakan agresi ilegal," tegas juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja.
Dua warga sipil dilaporkan menjadi korban dalam serangan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada verifikasi independen terkait kronologi insiden dari kedua pihak. Namun, organisasi pemantau konflik regional menyebut insiden ini sebagai eskalasi terburuk dalam lima tahun terakhir antara kedua negara yang memiliki sejarah panjang sengketa wilayah, khususnya di sekitar kompleks Kuil Preah Vihear.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Chulalongkorn, Prof. Dr. Anucha Kriangsak, menilai konflik ini berpotensi meluas jika tidak segera ditangani melalui diplomasi.
"Kedua negara harus menahan diri dan membuka ruang dialog. Keterlibatan PBB atau ASEAN sebagai mediator sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut," ujarnya dalam wawancara dengan ThaiPBS, Kamis (24/7).
Sementara itu, ratusan warga di wilayah perbatasan mulai dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Beberapa sekolah ditutup untuk sementara. Palang Merah melaporkan sedikitnya lima orang mengalami luka-luka akibat bentrokan tersebut. Jumlah korban jiwa masih dalam proses pendataan resmi. (mer/ris/fir)
Editor : M Firman Syah