RADAR SURABAYA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai lawatannya ke Timur Tengah dengan perhentian pertama di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Hanya beberapa bulan setelah dilantik untuk masa jabatan keduanya, Trump bertemu Raja Arab Saudi sebagai langkah awal untuk mempererat hubungan dengan dunia Arab.
Setelah Riyadh, kunjungan dilanjutkan ke negara-negara Teluk lainnya, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab.
Namun, satu negara yang mencolok karena tidak masuk dalam daftar kunjungan adalah Israel.
Israel Tidak Masuk Agenda, Sejarah Terulang
Situasi ini mengingatkan pada tahun 2009, saat Presiden Barack Obama memilih tidak mengunjungi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang baru kembali menjabat.
Keputusan itu dianggap sebagai penghinaan diplomatik dan menjadi titik awal keretakan hubungan AS-Israel kala itu.
Kini, dengan Trump kembali menjabat, Israel kembali tidak masuk dalam daftar kunjungan resmi. Gedung Putih menyebut lawatan ini sebagai
“kembalinya yang bersejarah ke Timur Tengah” dengan misi membangun “stabilitas, peluang, dan saling menghormati.” Namun, Israel lagi-lagi terpinggirkan.
Pejabat Israel Khawatir Kejutan Baru
Serangkaian keputusan mengejutkan dari Trump sebelumnya—termasuk pembicaraan dengan Iran, kesepakatan dengan kelompok Houthi di Yaman,
hingga dialog dengan Hamas—membuat para pejabat Israel waswas akan kemungkinan kejutan lain yang merugikan.
Menurut sumber di lingkaran diplomatik, Trump tak akan mengunjungi Israel tanpa “hasil konkret” seperti kesepakatan gencatan senjata atau pencapaian besar lainnya di Gaza.
Netanyahu Tak Lagi Jadi Pemain Kunci
Meski Netanyahu sempat menjadi pemimpin dunia pertama yang mengunjungi Trump di Washington pada Februari lalu, pengaruhnya di Gedung Putih dinilai terus menyusut.
Pada kunjungan keduanya di April, ia pulang tanpa kesepakatan dagang dan justru dihadapkan pada pengumuman negosiasi nuklir AS-Iran.
Alon Pinkas, mantan diplomat Israel, menyebut Netanyahu kehilangan daya tawar. “Netanyahu tidak memiliki apa pun yang diinginkan Trump dibandingkan dengan Arab Saudi, Qatar, atau UEA,” ujarnya.
Kebijakan Kejutan Picu Ketegangan
Dalam beberapa minggu terakhir, kebijakan luar negeri Trump tampak bergerak tanpa mempertimbangkan posisi Israel.
Kesepakatan damai dengan Hamas yang mengarah pada pembebasan sandera Edan Alexander dilakukan tanpa melibatkan Tel Aviv.
Trump menyebut pembebasan itu sebagai langkah awal “mengakhiri perang yang sangat brutal.” Pemerintahannya kini menargetkan negosiasi
damai penuh, memicu kekhawatiran Israel bahwa tekanan akan semakin kuat untuk menerima kesepakatan dengan Hamas.
Trump Maju Seperti Buldoser, Netanyahu Terpinggirkan
Dan Shapiro, mantan Duta Besar AS untuk Israel, menyebut Trump “bergerak seperti buldoser” demi mencapai kesepakatan damai dan pembebasan sandera.
Sementara Netanyahu dinilai lamban mengambil keputusan dan terlalu fokus pada kelangsungan politik pribadinya.
“Trump jelas frustrasi dengan Netanyahu, seperti presiden-presiden AS sebelumnya,” kata Shapiro.
Respons Israel: Publik Merasa Terabaikan
Meski Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mencoba meredam isu keretakan dengan menyatakan bahwa Trump tetap akan mengunjungi Israel tahun ini, publik Israel punya pandangan berbeda.
Media-media Israel menyoroti hubungan yang retak. Yedioth Ahronot menampilkan karikatur “Kebijakan Kejutan” yang menggambarkan Netanyahu gugup di belakang Trump.
Bahkan surat kabar pro-Trump, Israel HaYom, menyebut situasi ini sebagai jebakan politik bagi Netanyahu.
Trump Prioritaskan Strategi, Israel Tinggal Penonton
Kunjungan Presiden Donald Trump ke Timur Tengah menegaskan bahwa Israel tidak lagi menjadi prioritas utama dalam strategi luar negeri AS saat ini.
Dengan semakin eratnya hubungan Washington dan negara-negara Teluk yang kaya akan sumber daya, Netanyahu tampaknya harus puas menonton dari pinggir lapangan, setidaknya untuk sementara waktu.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan