Dominasi Tiongkok atas Unsur Tanah Jarang: Ancaman Strategis bagi Amerika Serikat dalam Perang Dagang
RADAR SURABAYA- Meningkatnya eskalasi perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat, sorotan dunia tertuju pada aksi saling balas pemberlakuan tarif oleh kedua raksasa ekonomi tersebut.
Namun, tarif bukan satu-satunya alat negosiasi yang digunakan Tiongkok. Negara tersebut kini mengambil langkah lebih jauh dengan membatasi ekspor unsur tanah jarang (rare earth elements/REE) dan magnet.
Langkah ini tidak hanya memengaruhi sektor industri Amerika Serikat, tetapi juga menunjukkan betapa ketergantungan AS pada pasokan mineral penting dari Tiongkok menjadi titik lemah dalam konflik perdagangan global.
Apa Itu Unsur Tanah Jarang dan Mengapa Penting?
Unsur tanah jarang merupakan 17 unsur kimia yang sangat penting dalam produksi teknologi canggih seperti ponsel pintar, kendaraan listrik, radar militer, dan MRI.
Walaupun tidak benar-benar "langka", unsur-unsur ini sulit diekstraksi dalam bentuk murni dan aman.
Beberapa contoh unsur penting tersebut antara lain:
Neodimium: digunakan dalam magnet berdaya tinggi untuk speaker, motor EV, dan mesin jet.
Itrium dan Europium: digunakan dalam layar elektronik karena kemampuannya menghasilkan warna terang.
Hampir semua perangkat modern, dari perangkat medis hingga persenjataan militer, bergantung pada unsur ini.
Tiongkok Menguasai Rantai Pasok Global
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), Tiongkok menguasai sekitar 61% produksi dan hingga 92% kapasitas pemrosesan unsur tanah jarang dunia.
Dominasi ini merupakan hasil dari investasi jangka panjang dan kebijakan pemerintah yang strategis sejak 1990-an.
Ekstraksi unsur tanah jarang juga menimbulkan limbah radioaktif, menjadikan negara-negara Barat enggan mengembangkan industri ini secara domestik.
Pembatasan Ekspor Tiongkok: Pukulan Telak bagi AS
Sebagai balasan atas tarif dari Washington, Tiongkok sejak awal April mulai membatasi ekspor tujuh jenis unsur tanah jarang berat yang krusial untuk sektor pertahanan. Perusahaan eksportir kini diwajibkan memiliki lisensi khusus.
Langkah ini meningkatkan kerentanan pasokan bagi AS, yang sangat bergantung pada impor dari Tiongkok, terutama dalam sektor pertahanan. Misalnya:
Jet tempur F-35
Rudal Tomahawk
Drone Predator
Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), tidak ada kapasitas pemrosesan alternatif di luar Tiongkok untuk unsur tanah jarang berat, sehingga pembatasan ini bisa menghambat produksi militer dan teknologi tinggi Amerika Serikat.
Dampak Ekonomi dan Potensi Krisis Pasokan
Industri manufaktur AS, yang digalakkan kembali oleh Trump, kini menghadapi ancaman keterlambatan produksi dan lonjakan harga komponen.
Jika krisis pasokan ini terus berlangsung, AS perlu segera mendiversifikasi rantai pasok dan berinvestasi besar dalam produksi domestik.
Namun, membangun kapasitas ini membutuhkan waktu, teknologi, dan biaya yang besar, sehingga AS tetap dalam posisi rawan dalam jangka pendek hingga menengah.
Unsur tanah jarang bukan sekadar sumber daya alam biasa—mereka adalah kunci dalam dominasi teknologi global.
Strategi Tiongkok dalam mengendalikan pasokan menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi kini tidak hanya ditentukan oleh tarif, tetapi juga oleh kendali atas sumber daya strategis.
Bagi Amerika Serikat, ini adalah peringatan penting untuk segera membangun kemandirian industri mineral kritis.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan