RADAR SURABAYA – Myanmar diguncang gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7, Jumat (23/3) waktu setempat.
Gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar besar Sagaing tersebut mengguncang wilayah Myanmar bagian tengah. Pusat gempa disebut ada di kedalaman 10 kilometer dari permukaan Bumi.
Guncangan akibat gempa kuat ini juga dirasakan Negara tetangga Myanmar, seperti di beberapa wilayah Thailand dan China yang berbatasan dengan negara tersebut.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), seperti dilansir AFP, melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada di area berjarak 16 kilometer sebelah barat laut kota Sagaing. Gempa kuat ini mengguncang wilayah Myanmar pada pukul 12.50 waktu setempat.
Dilansir dari laporan jurnalis AFP yang ada di Naypyitaw, ibu kota Myanmar, menyebut ruas jalanan setempat tertekuk akibat gempa kuat tersebut, dengan langit-langit ruangan berjatuhan.
Guncangan akibat gempa ini juga terasa di seluruh wilayah Thailand bagian utara, dan hingga ke ibu kota Bangkok.
Sejumlah layanan kereta metro dan kereta ringan di Bangkok dihentikan sementara imbas gempa ini.
Selain di Thailand, guncangan gempa juga terasa di area Provinsi Yunnan, China bagian barat daya. Laporan badan gempa Beijing mencatat guncangan yang dirasakan berkekuatan Magnitudo 7,9.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengungkap kalau gempa yang mengguncang Mandalay, Myanmar, pada hari ini, Jumat 28 Maret 2025, adalah gempa doublet (kembar). Kedua gempa darat itu menyebabkan kerusakan di wilayah Myanmar, juga Thailand.
"Laporan sementara beberapa bangunan bertingkat roboh/ambruk. Guncangan gempa ini diperkirakan memiliki skala intensitas maksimum VIII-IX MMI (kerusakan berat)," tutur Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono pasca-gempa itu.
Daryono menerangkan, gempa kembar atau doublet earthquake adalah dua peristiwa gempa bumi yang memiliki magnitudo hampir sama, terjadi dalam waktu dan lokasi pusat gempa yang relatif berdekatan.
Adapun guncangan gempa darat di Myanmar itu bisa menyebabkan kerusakan hingga wilayah Thailand, menurutnya, karena efek vibrasi periode panjang.
Efek itu bisa berdampak parah di wilayah yang tanahnya lunak dan lapisannya tebal seperti Bangkok, Thailand. (dtk/kmp/nur)
Editor : Nurista Purnamasari