RADAR SURABAYA - Pemimpin sayap kanan Prancis, Jordan Bardella, membatalkan pidatonya di Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di AS setelah insiden kontroversial yang melibatkan mantan penasihat utama Donald Trump, Steve Bannon.
Bannon membuat gerakan tangan yang oleh sebagian orang disamakan dengan penghormatan Nazi, memicu reaksi keras dari Bardella.
Dalam pidatonya di CPAC pada Kamis malam, Bannon berteriak "lawan, lawan, lawan" sambil mengulurkan tangan kanannya dengan jari-jari menunjuk dan telapak tangan menghadap ke bawah.
Gerakan ini langsung memicu perdebatan, dengan Bardella menyebutnya sebagai "isyarat yang mengacu pada ideologi Nazi".
Akibatnya, Bardella, yang memimpin partai National Rally Prancis, memutuskan untuk membatalkan penampilannya di acara tersebut pada Jumat.
Bannon membantah tuduhan tersebut dan menyebut gerakannya sebagai "lambaian biasa", serupa dengan yang dilakukannya di Prancis tujuh tahun lalu.
"Jika dia membatalkan [pidato] karena apa yang dikatakan media arus utama, dia tidak layak memimpin Prancis. Dia anak laki-laki, bukan pria dewasa," kata Bannon kepada majalah Le Point.
Di tengah kontroversi, pemimpin sayap kanan Rumania, George Simion, juga menolak interpretasi Bardella.
"Setiap sejarawan tahu itu bukan penghormatan Nazi," ujarnya kepada BBC. Gerakan Bannon di atas panggung mirip dengan gerakan yang dilakukan miliarder teknologi Elon Musk selama pelantikan Donald Trump pada Januari lalu. Musk juga membantah tuduhan serupa.
Bardella, yang dianggap sebagai calon presiden Prancis di masa depan, adalah salah satu politisi internasional terkemuka yang dijadwalkan berbicara di CPAC.
Acara empat hari ini juga menampilkan mantan Perdana Menteri Inggris Liz Truss, Presiden Argentina Javier Milei, dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Milei bahkan memberikan gergaji mesin mengilap kepada Elon Musk sebagai simbol pemotongan besar-besaran pemerintah federal.
CPAC tahun ini didominasi oleh gerakan "Make America Great Again" (MAGA) pimpinan Trump, yang merayakan kemenangan pemilihannya pada November lalu.
Bannon, yang pernah menjadi penasihat utama Trump, disambut tepuk tangan meriah setelah pidatonya.
"Kami tidak akan menyerah, kami tidak akan berhenti, kami akan berjuang," tegasnya.
Bannon sendiri baru saja dibebaskan dari penjara pada Oktober lalu setelah menjalani hukuman empat bulan karena menentang panggilan pengadilan terkait serangan 6 Januari 2021 di US Capitol.
Ia juga terhindar dari hukuman penjara dalam kasus penipuan penggalangan dana untuk pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko.
Artikel ini menggambarkan bagaimana kontroversi kecil dapat memicu dampak besar dalam dunia politik internasional, terutama di tengah polarisasi yang semakin tajam.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan