RADAR SURABAYA - Lagu baru kolaborasi antara Rose BLACKPINK dengan Bruno Mars, APT nampaknya sedang booming dan digandrungi di berbagai negara.
Lagu tersebut trending di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Akan tetapi, kesuksesan mereka mendatangkan kekhawatiran di sejumlah negara.
Terbaru, Kementerian Kesehatan Malaysia melabeli bahwa lagu tersebut sebagai musik berbahaya.
Hal ini karena lagu tersebut dianggap secara terang-terangan mengajak para pendengarnya untuk menormalisasi kehidupan budaya barat dan lifestyle yang tidak sehat.
Mengutip dari CNBC Indonesia, Kementerian Kesehatan Malysia menyinggung istilah 'APT' sebagai singkatan apartemen.
Ini dianggap sebagai ajakan dan godaan yang erat dengan kehidupan masyarakat barat.
Selain itu, isi liriknya juga dikritik oleh Malaysia. Di antaranya lirik "Kissy face, kissy face, sent to your phone but, I'm trying to kiss your lips for real".
Pihak Kementerian Kesehatan Malaysia pun menyayangkan bahwa lagu APT ini sering digunakan pengguna media sosial dalam membuat konten.
Bahkan, anak-anak juga banyak yang terpapar lagu ini dan ikut menyanyikannya. Padahal tidak sesuai untuk usia mereka.
Tentunya ini mendatangkan kekhawatiran bagi sejumlah orang tua di negara tersebut.
"Sebagai orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat, kita harus berhati-hati dalam menerima pengaruh budaya Barat tanpa pertimbangan yang matang. Meskipun mungkin ada berbagai interpretasi dan pendapat penggemar yang membela lagu ini, penting untuk menganalisis liriknya dan membuat penilaian sendiri," lanjut isi pernyataan tersebut.
Sebelumnya, ramai pembahasan mengenai lagu APT ini juga perlu dihindari oleh orang-orang yang khususnya sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi atau CSAT.
Lagu APT dianggap dapat mengganggu konsentrasi peserta ujian yang seharusnya belajar, tetapi malah menyanyikan 'apateu', lirik berulang dalam lagu APT karya Rose BLACKPINK dan Bruno Mars tersebut.
Meskipunbanyak pro dan kontra terkait lagu tersebut, akan tetapi lagu itu sukses merajai tangga lagu diberbagai negara, juga banyak didengar di platform digital. (bnd/nur)
Editor : Nurista Purnamasari