PRESIDEN pertama Indonesia, Soekarno membawa dampak besar tak hanya di dalam negeri tapi juga bagi beberapa negara lain di dunia. Misalnya di Uni Soviet yang kini menjadi Rusia, Soekarno pernah meninggalkan jejak yang membekas usai kedatangannya di negeri Komunis itu pada Juni 1961 silam.
Ada kisah unik dan menarik terkait kedatangan Presiden Soekarno ke Uni Soviet ini.
Soekarno cukup disegani oleh petinggi-petinggi di dunia. Dia pun memiliki keberanian dan prinsip yang kuat. Sehingga sosoknya menginspirasi banyak warga di dunia.
Misalnya salah satu warga Rusia, Musa Gashimovich. Dia merupakan warga Dagestan, salah satu negara bagian dalam Federasi Rusia. Wilayah itu sekaligus republik terbesar di Rusia yang terletak di utara Kaukasus.
Melansir Antara, Jumat (5/4), Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M Wahid Supriyadi, menuliskan kesan-kesannya saat melakukan kunjungan kerja di kota Dagestan dan bertemu dengan dua anak yang bernama sama dengan Presiden RI pertama, Sukarno.
Dubes Wahid bercerita bertemu dengan dua anak remaja bernama Sukarno bin Kamil dan Sukarno bin Muhammad.
Dalam bahasa Rusia diucapkan sebagai Sukarno Kamilevich dan Sukarno Magomedovich. Mereka berusia 12 dan 10 tahun.
Orang tua mereka adalah kakak beradik sehingga kemudian sepakat memberikan nama yang sama kepada anak-anaknya.
Mereka tinggal di sebuah wilayah yang berjarak sekitar satu jam naik mobil dari Makhachkala, ibu kota Republik Dagestan.
Kedua anak remaja itu datang ke Makhachkala atas undangan Abdulaev Ibragimgadzi, Kepala Pusat Nusantara, demikian Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Adiguna Wijaya, menerangkan.
Abdulaev lantas menceritakan tentang kisah kedua anak yang bernama Sukarno itu kepada para pejabat KBRI yang mengundangnya.
“Ceritanya panjang dimulai dari Musa Gashimovich pada Juni 1961 yang menghadiri sidang Partai Komunis di Kremlin. Musa adalah warga Dagestan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani (Kolkhoz),” ujarnya.
Pada sidang Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet saat itu, hadir beberapa kepala negara asing, termasuk Presiden pertama RI Soekarno.
Sidang hari itu jatuh pada hari Jumat. Ketika tiba saatnya waktu zuhur, tiba-tiba Presiden Sukarno berdiri dan minta izin kepada Sekjen Partai Komunis, Nikita Khrushchev, untuk meninggalkan ruangan karena akan menunaikan salat.
Nikita Khrushchev yang komunis pun mengizinkan. Melihat hal ini, Musa yang notabene muslim sampai terkejut dan seolah tidak percaya dengan keberanian Presiden Soekarno.
Saat rezim komunis berkuasa di Uni Soviet, kegiatan beragama, termasuk Islam, dilarang. Sehingga bagi umat yang melaksanakan ibadahnya dilakukan secara diam-diam.
Menurut Musa, apa yang dilakukan Soekarno sangatlah luar biasa dan di luar pikiran kebanyakan orang Soviet ketika itu.
Atas kekagumannya pada Soekarno, Musa pun memberi nama anaknya Sukarno bin Musa dalam pengucapan Rusia, yakni Sukarno Musaevich, yang lahir pada tahun 1962.
Menurut Abdulaev, Musa sempat menulis surat kepada KBRI Moskow kala itu untuk meminta izin memberi nama anaknya Sukarno, tapi tidak pernah dijawab.
Salah seorang anak Sukarno, Kamil kemudian juga menamai anaknya Sukarno bin Kamil (Sukarno Kamilevich) mencontoh pada yang dilakukan kakeknya dulu.
Anehnya, saudara sepupu Kamil, Muhammad, juga memberi nama anaknya Sukarno bin Muhammad (Sukarno Magomedovich).
Kedua anak yang datang pada peresmian Pusat Nusantara tersebut, Sukarno bin Kamil dan Sukarno bin Muhammad, adalah cicit dari Musa Gashimovich yang hadir di sidang Kongres Partai Komunis Uni Soviet pada 1961.
Menurut Dubes Wahid, sampai saat ini nama Sukarno masih banyak dikenal oleh generasi tua, terutama di kota-kota yang pernah dikunjunginya seperti di Moskow, Saint Petersburg, Yekaterinburg, Sochi dan Samarkand yang sekarang masuk wilayah Uzbekistan.
Di Moskow, Soekarno pernah mengunjungi Masjid Katedral (Agung) yang saat itu sangat kecil dan fotonya masih tersimpan di masjid kebanggaan umat Muslim di Rusia itu.
Di Saint Petersburg dalam kunjungannya tahun 1956, Sukarno juga meminta Nikita Khrushchev agar mengizinkan kembali dibukanya Masjid Biru sebagai tempat ibadah umat Islam.
Khrushchev pun mengizinkan 10 hari setelah kunjungan Sukarno. Imam Masjid Biru, Cafer Nasibullahoglu, pun mengakui jasa Soekarno atas pembukaan masjid tersebut.
Demikian juga dengan cerita makam Imam Bukhari. Walaupun tidak ada sumber sejarah resmi, masyarakat Samarkand sampai saat ini meyakini makam Imam Bukhari dibangun Uni Soviet atas jasa Soekarno.
Konon, Soekarno bersedia memenuhi undangan Nikita Khruschev dengan syarat ditemukannya makam Imam Buchari.
Dan benar saja, Khruschev memenui syarat itu hingga Sukarno dalam rangkaian kunjungannya ke Uni Soviet pada tahun 1956 mengunjungi makam tersebut dengan perjalanan kereta api yang ditempuh sekitar tiga hari. (hil/jay)
Editor : Jay Wijayanto