Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kenali Tradisi Unik Ramadan dari Berbagai Negara di Dunia

Nurista Purnamasari • Senin, 25 Maret 2024 | 02:41 WIB
Berbagai negara di dunia memiliki tradisi Ramadan yang unik dan masih eksis hingga kini.
Berbagai negara di dunia memiliki tradisi Ramadan yang unik dan masih eksis hingga kini.

RADAR SURABAYA – Bulan suci Ramadan adalah momen yang paling dinantikan umat Islam di seluruh dunia.

Setiap negara memiliki tradisi unik dan berbeda dalam menyambut bulan Ramadan.

Momen bulan suci ini tak hanya dapat dirasakan di Indonesia, namun juga di negara lain terutama yang memiliki banyak populasi Muslim.

Berikut merupakan lima tradisi saat bulan suci Ramadan di berbagai belahan dunia:

1. Chaand Raat – Pakistan, India, dan Bangladesh
Pada malam terakhir bulan Ramadan, yang dikenal dengan Chaand Raat (malam bulan), jalanan di Asia Selatan dipenuhi dengan berbagai perayaan.

Pada malam takbir sebelum Idul Fitri, orang-orang Pakistan, India, dan Bangladesh akan berkumpul bersama sanak saudara dan teman untuk merayakan Chaand Raat untuk bertukar camilan manus.

Chaand Raat
Chaand Raat

Di sisi lain, orang-orang akan berkeliling kota untuk berbelanja atau mencari hiburan.
Sebagian besar wanita Desi (Pakistan, India, dan Bangladesh) akan berbondong-bondong ke toko perhiasan dan toko henna untuk menghiasi tangan mereka.

Hingga saat ini, penggunaan henna merupakan tradisi turun temurun dalam perayaan bulan Ramadhan di negara Asia Selatan.

2. Festival Garangao – Qatar
Garangao merupakan tradisi yang dilakukan pada pertengahan bulan Ramadan oleh anak-anak di Qatar dan dan negara Saudi Arabia lainnya.

Festival Garangao
Festival Garangao

Festival Garangao berlangsung pada tanggal 13, 14, dan 15 Ramadan setelah berbuka puasa.

Anak-anak akan berkeliling dan bernyanyi di sekitaran pemukiman penduduk menggunakan pakaian tradisional Qatar untuk mendapatkan kacang-kacangan dan manisan.

Anak lelaki menggunakan pakaian pria Arab, jaket, topi, dan lain-lain. Sementara anak perempuan menggunakan gaun tradisional dengan berbagai perhiasan seperti anting, kalung, dan gelang.

3. Fanus – Mesir
Untuk menyambut bulan suci Ramadan, orang-orang Mesir akan menyalakan lampu tradisional yang disebut Fanus. Lampu fanus merepresentasikan kebersamaan dan kebahagiaan.

Terdapat beragam versi mengenai fanus, namun yang paling popular adalah kisah dari zaman kekhalifahan Fathimiyah.

Fanus lentera khas Mesir.
Fanus lentera khas Mesir.

Pada hari pertama Ramadan, para perwira militer memerintahkan penduduk desa untuk memegang lilin di jalan-jalan yang gelap, menutupnya dengan bingkai kayu agar lilin tidak mati untuk memberikan jalan masuk yang terang bagi Khalifah Abu Tamim Maad al-Muizz li-Dinillah.

Struktur kayu ini berevolusi menjadi lentera berpola dari waktu ke waktu. Dan kini lentera-lentera tersebut dipajang di seluruh negeri, menyebarkan cahaya selama bulan suci.

4. Mheibes – Irak
Warga Irak dari berbagai kalangan usia berkumpul pada dini hari, setelah berbuka puasa, untuk memainkan permainan tradisional yang disebut Mheibes.

Mheibes
Mheibes

Permainan ini sebagian besar dimainkan oleh laki-laki selama bulan Ramadhan, terdiri dari dua kelompok yang terdiri dari 40 hingga 250 peserta yang secara bergantian menyembunyikan Mheibes, atau cincin.

Mheibes merupakan sebuah permainan tipu muslihat, dimulai dengan kapten tim yang memegang cincin, dengan tangan ditutupi selimut.

Anggota lainnya harus duduk dengan tangan terkepal di pangkuan saat kapten tim secara diam-diam memberikan cincin tersebut kepada salah satu peserta lainnya.

Selama pertukaran, lawan mereka harus menggunakan bahasa tubuh untuk mengetahui siapa di antara ratusan orang yang menyembunyikan cincin tersebut.

Meskipun awal mula permainan ini tidak diketahui, permainan ini memiliki makna budaya dan sejarah yang cukup besar.

Beberapa dekade sebelumnya, pemerintah Irak akan menyelenggarakan permainan di seluruh komunitas, menampung ratusan pemain dan menyatukan warga dari seluruh penjuru negeri.

Terlepas dari kenyataan bahwa permainan yang disponsori oleh negara ini dihentikan setelah perang dan dianggap hilang, Mheibes telah kembali muncul dalam beberapa tahun terakhir, karena masyarakatnya masih terus melanjutkan tradisi tersebut.

5. Mesaharati – Turki
Tidak hanya di Indonesia, di Turki juga terdapat penabuh genderang sahur yang disebut “Mesaharati”.

Mesaharati
Mesaharati

Para penabuh berkeliling di jalanan Turki dengan alat musik semacam gendang kecil untuk membangunkan orang-orang pada waktu sahur.

Hal ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama sejak Kekaisaran Ottoman. Para penabuh genderang mengenakan pakaian tradisional Turki, dan bernyanyi di jalanan untuk membangunkan warga.

Mereka akan menyanyikan lagu dengan lirik “Wahai hamba-hamba Allah, berimanlah kalian kepada ke-Esaan Allah, bangunlah dan berdoalah kepada Allah yang memberi rezeki.”

Budaya Turki kebanyakan adalah warisan dari Kekaisaran Ottoman dan terkait erat dengan budaya Islam.

Itulah beberapa tradisi saat Ramadan dari berbagai Negara yang dapat menambah wawasan tentang kekhasan Ramdan di beberapa negara. (nad/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#tradisi ramadan #turki #irak #mesir #india #pakistan #Qatar