Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Komunitas Waria dan Homoseksual di Surabaya Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Dimas Mahendra • Jumat, 10 April 2026 | 10:39 WIB
Pendataan waria yang terjaring operasi di kantor Satpol PP Surabaya. (IST)
Pendataan waria yang terjaring operasi di kantor Satpol PP Surabaya. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Surabaya pada awal abad ke-20 bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan yang sibuk, tetapi juga sebagai ruang pertemuan berbagai identitas sosial dan budaya. Di balik geliat modernitas kala itu, tersimpan satu fragmen sejarah yang jarang dibicarakan: keberadaan komunitas homoseksual dan respons keras pemerintah kolonial terhadapnya.

Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan bahwa praktik homoseksualitas di Hindia Belanda sudah terdeteksi sejak awal 1900-an. Fenomena ini tidak berdiri di satu kelompok saja, melainkan lintas etnis dan kelas sosial—mulai dari orang Belanda, Tionghoa, Arab, hingga bumiputera, dengan latar profesi yang beragam.

Baca Juga: Pembobolan Rumah di Pakal Surabaya, Ternyata Pelaku Sudah Enam Kali Curi Motor 

“Di berbagai kota Indonesia era kolonial cukup banyak ditemui aktivitas seks yg menyimpang tersebut, salah satunya di Surabaya,” jelasnya.

Menurutnya, para pelaku umumnya mencari pasangan laki-laki muda, yang dalam beberapa kasus berasal dari kalangan rentan. Aktivitas tersebut kerap berlangsung terselubung di ruang-ruang sosial seperti hotel, losmen, hingga tempat hiburan elite.

Di Surabaya, titik-titik pertemuan itu disebut berada di kawasan hiburan seperti Concordia, societeit, restoran, hingga kafe. Dari sana, interaksi berlanjut ke ruang privat yang lebih tertutup.

Namun situasi berubah drastis pada 1938. Sebuah skandal besar mencuat ketika seorang pejabat tinggi kolonial di Batavia tertangkap melakukan tindakan asusila dengan pria muda di sebuah hotel. Peristiwa ini menjadi titik balik.

“Sejak itu, pemerintah kolonial mulai melakukan penertiban besar-besaran yang dikenal sebagai ‘operasi moral’,” ungkap Nur.

Baca Juga: Bikin Heboh Penggemar, Ji Chang Wook Main Padel di Jakarta

Melalui perangkat hukum kolonial seperti Wetboek van Strafrecht, aparat melakukan penangkapan massal di berbagai kota, termasuk Surabaya. Operasi ini menyasar individu-individu yang diduga terlibat dalam praktik homoseksualitas, yang saat itu dianggap melanggar norma moral, memalukan, hingga berpotensi menyebarkan penyakit.

Penertiban berlangsung serentak di sejumlah kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, hingga Surabaya. Dampaknya cukup signifikan. Aktivitas komunitas tersebut disebut menurun tajam setelah operasi dilakukan.

“Semenjak operasi moral yg serentak oleh aparat pemerintah, tindakan gay ini menurun,” pungkasnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#homoseksual #surabaya #lgbt #waria #razia waria surabaya