RADAR SURABAYA - Hotel Simpang menyimpan sejarah panjang perkembangan Kota Surabaya. Bangunan di Jalan Gubernur Suryo tersebut sudah ada sejak masa kolonial dan menjadi salah satu penginapan mewah pada zamannya.
Pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan, menjelaskan bahwa embrio berdirinya Hotel Simpang diperkirakan muncul pada 1868 dengan nama Hotel Broekman.
“Awalnya hotel ini dikenal sebagai Hotel Broekman. Letaknya di Jalan Simpang, tidak jauh dari Tunjungan, dan menjadi salah satu penginapan mewah pada masa kolonial,” ujar Nur Setiawan.
Menurut Wawan, panggilan akrab Nur Setiawan, pada masa awal berdirinya ukuran hotel tersebut belum terlalu besar. Bangunan itu juga sempat beberapa kali mengalami pergantian nama seiring perkembangan zaman.
Memasuki 1920-an, bangunan hotel mengalami pemugaran. Perbaikan itu dilakukan karena jumlah tamu yang datang semakin meningkat sehingga membutuhkan ruang yang lebih luas.
“Pada periode itu kemungkinan jumlah pelancong yang datang semakin banyak, sehingga hotel perlu diperluas untuk menambah kapasitas kamar,” jelasnya.
Baca Juga: Prediksi Barcelona vs Atletico Madrid: Rekor Buruk di Eropa, Mampukah Blaugrana Balas Dendam?
Pada masa tersebut, bangunan hotel masih berlantai satu dengan posisi menghadap serong ke arah barat–selatan. Letaknya tepat berada di persimpangan Jalan Simpang yang dinilai sangat strategis.
Sejak awal berdiri, hotel ini sudah dilengkapi kamar penginapan yang nyaman serta restoran. Bangunan tersebut didirikan oleh pengusaha asal Eropa yang melihat potensi kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan.
Selain itu, kawasan Jalan Simpang pada masa itu juga dilalui jalur trem, yang menjadi sarana transportasi utama di Surabaya. Keberadaan trem memudahkan para pelancong untuk menjangkau hotel tersebut.
“Lokasinya sangat strategis karena dilewati trem, sehingga memudahkan orang yang datang dari berbagai kawasan di kota,” kata Wawan.
Ia menambahkan, tamu yang menginap di Hotel Simpang pada masa itu umumnya berasal dari kalangan orang kaya dan pejabat kolonial. Tarif menginap yang cukup mahal membuat hotel ini lebih banyak dihuni oleh pebisnis, warga Eropa, maupun kalangan bangsawan.
Sementara itu, tamu dari kalangan lokal biasanya berasal dari pejabat, pengusaha, atau tokoh bangsawan yang memiliki kedudukan penting. (*)