RADAR SURABAYA - Di masa kolonial, Surabaya memiliki beberapa jembatan angkat yang berfungsi sebagai sarana penghubung sekaligus pintu masuk kota melalui jalur air.
Namun, dari sejumlah jembatan tersebut, kini hanya tersisa satu yang bertahan, yaitu Jembatan Petekan.
Baca Juga: Pertujukan Musikal Hadir di Ciwo Surabaya untuk Mengisi Libur Lebaran, Gratis Lho. Catat Jadwalnya!
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan, pada masa kolonial, Jembatan Petekan disebut Ophaalbrug atau jembatan angkat.
Masyarakat setempat menyebutnya Jembatan Petekan karena jembatan ini akan terangkat bila "dipetek" atau ditombol, sehingga memungkinkan perahu-perahu melintas di Sungai Kalimas.
"Di zaman kolonial, jembatan ini disebut Ophaalbrug atau jembatan angkat. Orang Surabaya menyebutnya Jembatan Petekan karena jembatan ini memang akan terangkat bila dipetek (ditombol) agar perahu-perahu bisa melintas di sungai Kalimas," ujar Nanang, Minggu (15/3).
Jembatan ini juga berfungsi sebagai penghubung tembok kota di sisi utara.
Sementara itu, di sisi tengah terdapat Roodebrug (Jembatan Merah) yang pada era Daendels, juga merupakan jembatan angkat yang terbuat dari kayu bercat merah.
Di sisi sekitar Bibis, yang merupakan pintu gerbang kota di sisi selatan, juga terdapat jembatan angkat serupa di atas sungainya.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Senin 16 Maret 2026: Malam Hari Diprakirakan Hujan Disertai Petir
"Semua jembatan angkat ini selain sebagai sarana penghubung jalan, juga sebagai pintu masuk ke kota Surabaya melalui jalur air," tuturnya.
Namun dari seluruh jembatan angkat yang pernah ada, kini hanya Jembatan Petekan yang tersisa, namun kondisinya sudah sangat rusak.
Nanang menggambarkan kondisi jembatan tersebut hidup segan, mati pun tak mau.
"Dari jembatan angkat yang ada, kini hanya ada satu yang tersisa dengan kondisi yang sudah sangat rusak. Itulah Jembatan Petekan. Kondisinya sangat memprihatinkan," ungkapnya.
Nanang berharap jika peninggalan kota ini memang ingin dijadikan monumen, seharusnya dilakukan rekonstruksi agar dapat menjadi sumber informasi yang edukatif bagi generasi penerus dan anak cucu.
"Bila memang mau dibuat sebuah monumen, seharusnya peninggalan kota ini direkonstruksi agar menjadi sumber informasi edukatif bagi generasi penerus dan anak cucu," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa