Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kata “Arek” Kini Digunakan Masyarakat Luas, Tak Hanya oleh Warga Surabaya, Begini Sejarahnya

Rahmat Sudrajat • Rabu, 4 Maret 2026 | 05:49 WIB

MERDEKA: Monumen Wira Bbuana sebagai simbol pertahanan arek-arek Suroboyo di wilayah Wonokromo. Lokasi ini merupakan titik terakhir sebelum mundur ke luar kota.
MERDEKA: Monumen Wira Bbuana sebagai simbol pertahanan arek-arek Suroboyo di wilayah Wonokromo. Lokasi ini merupakan titik terakhir sebelum mundur ke luar kota.

RADAR SURABAYA - Sejak pertempuran 10 November, arek Suroboyo dikenal memiliki semboyan kuat yang egaliter, terbuka, dan tidak sombong.

Dengan kata lain, mereka jauh dari sikap eksklusif.

Budaya arek Suroboyo justru diharapkan mampu menyambut arus global sekaligus memperhitungkan dampaknya agar tidak terbawa tren yang merugikan bangsa.

Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono, dalam menghadapi perkembangan zaman, arek Suroboyo harus bisa mengantisipasi segala bentuk ancaman dan bahaya melalui kreativitas serta inovasi, tanpa harus meninggalkan dan mengesampingkan jati diri kota Surabaya.

"Melihat kekhasan arek-arek Suroboyo tersebut, sesungguhnya kota Surabaya memiliki kekuatan yang luar biasa. Sungguh sangat disayangkan jika kekuatan itu tidak dapat dikelola dengan baik untuk tujuan bersama, apalagi jika dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun golongan," ujar Nanang.

Secara etimologis, istilah arek Suroboyo berkaitan dengan kampung.

Arek sendiri awalnya adalah sebutan bagi warga kota yang tinggal di kampung-kampung, seperti arek Pengampon (Kampung Pengampon), arek Jagalan (Kampung Jagalan), arek Maspati (Kampung Maspati), dan arek Pesapen (Kampung Pesapen).

Sementara itu, bagi warga kota yang tinggal di pinggir jalan raya, rumah gedongan, atau bukan di kawasan kampung seperti di Darmo, mereka tidak mendapat sebutan arek.

"Selain karena kata tersebut dianggap berkonotasi kampung yang derajatnya lebih rendah dibandingkan orang yang tinggal di rumah gedongan, warga kota seperti ini lebih menerima sebutan wong priyayi atau wong pegawai," ujarnya.

Namun, dalam perkembangannya, kata arek sudah sangat memasyarakat.

Penggunaan kata Arek kini tidak lagi hanya untuk warga kota yang tinggal di perkampungan. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#pegiat sejarah #kampung #Pertempuran 10 November #arek suroboyo #sejarah #NANANG PURWONO