Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Budaya Arek Suroboyo: Tiga Prinsip Dasar yang Jadi Landasan Kepahlawanan

Rahmat Sudrajat • Jumat, 27 Februari 2026 | 15:26 WIB

ILUSTRASI: Perjuangan Arek-Arek Suroboyo saat malawan penjajahan diilustrasikan dalam sebuah lukisan sketsa.
ILUSTRASI: Perjuangan Arek-Arek Suroboyo saat malawan penjajahan diilustrasikan dalam sebuah lukisan sketsa.

RADAR SURABAYA - Sikap kepahlawanan Arek Suroboyo yang tercermin dalam Pertempuran Surabaya merupakan refleksi dari budaya arek.

Budaya arek juga dikenal sebagai budaya Surabaya.

Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, budaya arek tersebut memiliki tiga prinsip dasar, yaitu kerakyatan, solidaritas dan demokratis.

Prinsip kerakyatan yang mengalir dalam jiwa dan sanubari Arek Suroboyo telah memicu bangkitnya gelombang perlawanan rakyat terhadap tentara sekutu yang diboncengi oleh tentara Kompeni.

Gelombang perlawanan ini tidak hanya menyulitkan tentara Sekutu di Surabaya, namun juga menggetarkan kekuatan mereka di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

"Ini merupakan gelombang perlawanan segenap lapisan masyarakat dengan tekad bulat untuk mempertahankan kedaulatan bangsa yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945," tuturnya.

Semangat kerakyatan ini membuat Arek Suroboyo berada pada posisi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Mereka bersatu dalam rasa dan karsa dengan semboyan merdeka atau mati.

Karena kekuatan rakyat inilah, semua yang telah membuka dada demi bangsa dianggap sebagai pahlawan. Baik pahlawan Surabaya maupun pahlawan bangsa.

"Salah satunya adalah Bung Tomo, yang berhasil membakar semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo melalui radio. Karenanya, meski hanya bersenjata apa adanya, mereka tidak gentar menghadapi kekuatan Sekutu yang lengkap dengan persenjataan mesin," ujar jurnalis televisi itu.

Prinsip kedua adalah solidaritas. Arek Suroboyo dikenal memiliki solidaritas yang tinggi.

Menyadari nasib yang sama sebagai anak bangsa yang berada di bawah tekanan pihak lain, mereka bangkit untuk saling membebaskan diri dari belenggu penjajahan, termasuk mengantisipasi upaya penjajahan kembali di bumi pertiwi.

Fakta ini terlihat ketika tentara Belanda menyusup ke dalam tentara sekutu yang hendak melucuti tentara Jepang dan membebaskan interniran kulit putih, terutama wanita dan anak-anak yang ditawan Jepang.

Prinsip ketiga adalah demokratisasi. Karena peristiwa 10 Nopember merupakan gerakan rakyat, maka rakyat secara bersama-sama ikut menentukan arah perjuangan dan tujuan bersama.

Yaitu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Keterbukaan dan kebebasan berpendapat yang ada pada prinsip demokratisasi inilah yang menjadikan Arek Suroboyo memiliki kekuatan luar biasa untuk menghadapi tentara Sekutu.

"Dari ketiga prinsip dasar tersebut, terlihat sikap bulat Arek Suroboyo yang egaliter, terbuka, dan tidak sombong. Budaya Arek jauh dari sikap eksklusif yang memisahkan diri dari orang atau kelompok lain. Sebaliknya, Budaya Arek harus mampu menyambut globalisasi dan memperhitungkan dampaknya agar tidak mudah terbawa arus yang bisa merugikan bangsa dan negara," tegasnya.

Dalam hal ini, Arek Suroboyo diharapkan mampu mengantisipasi segala kemungkinan yang muncul. (*/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#arek surabaya #Kedaulatan Bangsa #pertempuran surabaya #NANANG PURWONO