Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Demi Kedaulatan, Arek-Arek Suroboyo Tak Gentar Lawan Kekuatan Tak Seimbang di Pertempuan 10 Nopember

Rahmat Sudrajat • Kamis, 26 Februari 2026 | 14:38 WIB

ILUSTRASI: Sebuah sketsa menggambarkan perjalanan panjang beriring darah dan air mata arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 Nopember dengan hanya satu tujuan, yaitu merdeka.
ILUSTRASI: Sebuah sketsa menggambarkan perjalanan panjang beriring darah dan air mata arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 Nopember dengan hanya satu tujuan, yaitu merdeka.

RADAR SURABAYA - Rakyat Surabaya tak gentar menghadap ancaman dari Mayor Jenderal E.C Mansergh.

Bahkan rakyat menganggap ultimatum yang diberikan sebagai sebuah penghinaan.

Gubernur Suryo pun secara resmi menolak ultimatum tersebut dan rakyat Surabaya bersiap untuk bertempur habis-habisan.

Tak seorang pun rela mengangkat tangan sambil menyerahkan senjata mereka.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, pentingnya peristiwa tersebut bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perlawanan rakyat Surabaya terhadap pasukan Inggris. bukan hanya tentang menolak penjajahan kembali.

“Melainkan juga bukti bahwa rakyat siap mengorbankan segala sesuatu untuk mempertahankan kedaulatan yang baru diraih,” tegas Nanang.

Sementara pihak Inggris menepati janjinya untuk melancarkan serangan, pada pagi hari 10 Nopember 1945, pasukan Inggris mulai mengeluarkan serangannya.

Kota Surabaya digempur dari tiga arah, yaitu darat, laut dan udara.

Sekitar 15.000 orang pasukan Inggris dikerahkan untuk menggempur Kota Surabaya yang dikawal oleh 13.000 pemuda Indonesia.

Dalam gempuran itu Inggris mengerahkan tank-tanknya, senjata artilerinya serta meriam-meriam kapal penjelajah.

Selain itu juga dikerahkan pesawat pembom sebanyak 12 unit jenis mosquito dan thunderbolt.

“Belum lagi dukungan dari tank-tank Sherman dan sejumlah brencarrier,” lanjut Nanang.

“Perbandingan kekuatan sangat tidak seimbang. Pasukan Inggris memiliki persenjataan berat dan berpengalaman dalam perang, sementara rakyat Surabaya hanya bersenjata ringan,” ungkap Nanang.

Hal ini memang sangat tidak berimbang bila dibandingkan dengan persenjataan rakyat Surabaya yang hanya bersenjata ringan mulai dari senapan sampai mortar dan dua pucuk meriam anti pesawat terbang kaliber 75 mm.

Apalagi pasukan Inggris telah berpengalaman dalam berperang.

Namun kenyataannya kota Surabaya tidak mudah begitu saja dihancurkan seperti yang telah direncanakan sekutu.

"Semangat pantang menyerah dan benteng hidup arek Suroboyo menjadi tameng perlindungan kota," ujarnya.

Pertempuran mempertahankan kota ini dipimpin oleh Sungkono.

Pertahanan kota dibagi menjadi empat sektor. Bung Tomo menjadi motor pembangkit semangat juang bagi arek-arek Suroboyo.

Mereka bersumpah untuk mempertahankan kota sampai titik darah penghabisan dan kota pun menjadi ajang pertempuran antara rakyat dan tentara sekutu.

“Pemimpin seperti Sungkono dan Bung Tomo berhasil menyatukan rakyat dari berbagai latar belakang untuk satu tujuan yang sama: mempertahankan Surabaya dan kemerdekaan Indonesia,” tambah Nanang Purwono.

Kini peristiwa itu telah berlalu. Sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa para pahlawan yang telah menjadi benteng pertahanan kota dan rela mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah kedaulatan bangsa, maka wajarlah kalau bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan setiap tahunnya. (rmt/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#arek arek suroboyo #pertempuran 10 nopember #era klasik surabaya #pertahanan surabaya #gubernur suryo #NANANG PURWONO