RADAR SURABAYA - Pegiat sejarah Surabaya Nanang Purwono menguraikan makna di balik simbol Kota Surabaya dan semangat arek-arek Suroboyo yang menjadi ruh kota tersebut.
Terutama terkait dengan peristiwa 10 November 1945 yang menjadi dasar Hari Pahlawan Bangsa Indonesia.
Menurut Nanang, dalam bahasa Sanskerta, Asura berarti prajurit atau pahlawan yang gagah berani.
Sementara G.H. Von Faber dalam buku Oud Soerabaia mengilustrasikan Asura dalam wujud seekor ikan hiu (sura) yang bertarung melawan seekor buaya (baya), yang kemudian menjadi simbol Kota Surabaya.
"Sedangkan Asura merupakan sebuah akronim dari Arek Surabaya atau Arek Suroboyo," jelasnya.
Ia menjelaskan jika sebelumnya tembok dan benteng kota berfungsi sebagai perlindungan fisik terhadap ancaman, maka saat ini tembok kota bukan lagi berwujud fisik.
"Namun sebuah sikap dari arek-arek Surabaya yang pantang menyerah, pantang dijajah dan pantang dihinah oleh siapapun, khususnya oleh penjajah. Maka arek-arek Suroboyolah sebagai benteng dan tembok pertahanan kota. Mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raga demi kedaulatan bangsa yang telah diproklamikan pada 17 Agustus 1945," ujar Nanang.
Dalam era modern, bentuk pertahanan kota berbeda dengan zaman angkatan 45 ketika arek-arek Suroboyo harus menyingsingkan lengan dan membuka dada sebagai tameng hidup (the living shield) Kota Surabaya.
"Namun pertahanan kota yang dimaksud adalah pertahanan jati diri sebagai kelangsungan dan ruh sebuah kota. Di era moderen, Surabaya boleh membangun dan memang harus membangun, namun manusianya hendaknya tetap berbudaya. Budaya apa? Jawabnya budaya arek. Budaya arek inilah yang memberi ruh kota Surabaya," paparnya.
Nanang juga mengungkapkan bahwa setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dengan Kota Surabaya sebagai dasar pertimbangan penting.
Hal ini karena Hari Pahlawan diangkat dari sikap dan tindak kepahlawanan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kota dan bangsanya.
"Tindak kepahlawanan ini pada hakekatnya merupakan manifestasi dari jiwa-jiwa yang haus akan kemerdekaan dan kebebasan bagi bangsanya yang disertai dengan keberanian dalam mengatasi berbagai kesulitan maupun tantangan. Itu pulalah arti kata Surabaya," katanya.
Menurutnya, peristiwa 10 November 1945 di Surabaya bukannya sebuah peristiwa yang bersifat kebetulan. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa