RADAR SURABAYA - Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan zaman, tata kota dari kota bertembok Surabaya tidak banyak mengalami perubahan, meskipun struktur bangunan yang ada di dalamnya kini banyak yang mengalami perubahan.
Bahkan ada sejumlah bangunan yang telah hilang, dibongkar, lalu digantikan dengan bangunan baru.
Di antara perubahan sejumlah wajah struktur bangunan di Kota Surabaya, masih ada yang tersisa dan tetap lestari.
Yakni keberadaan jalan-jalan, kompleks permukiman, dan perkantoran.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan mengenai perkembangan kompleks permukiman di kota ini.
"Bila kompleks permukiman masyarakat Arab dan Melayu masih lestari, tidak demikian dengan kampung Pecinannya," ungkap Nanang.
Menurut Nanang, secara sosial kampung Pecinan kini telah bertransformasi menjadi sentra bisnis dan bukan lagi berfungsi sebagai kompleks permukiman.
"Umumnya masyarakat Tiong Hwa telah berpindah ke tempat-tempat yang lebih baik dan layak sebagai tempat tinggal. Sementara kawasan Pecinan di sekitar Kembang Jepun dijadikan tempat berbisnis," ujarnya.
Di antara situs tembok kota yang masih dapat ditemui hingga saat ini, terdapat berbagai hasil peradaban Kota Surabaya yang menjadi bukti sejarahnya.
Salah satunya adalah menara-menara kota yang merupakan hasil karya arsitektur yang umumnya dapat dijumpai pada bangunan-bangunan yang berdiri di sudut-sudut jalan di kota Surabaya.
Selain itu, kompleks makam Sunan Ampel juga menjadi salah satu situs bersejarah yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Bangunan pintu gerbang dan tembok makam di kompleks tersebut dibangun sekitar abad ke-15 dengan konsep arsitektur Hindu Jawa.
Yakni menerapkan konsep bangunan tiga berundak atau area tiga lapis.
Setiap area dibuka dan dihubungkan dengan pintu gerbang paduraksa (gerbang beratap).
Area pertama disebut Njaba (luar atau serambi luar), area kedua Tengah (tengah atau ruang tamu), dan area ketiga yang merupakan tempat utama dan penting disebut Njero (dalam atau ruang utama).
"Pintu ini, sebagaimana terdapat di percandian, memiliki makna yang sangat sakral karena disanalah terdapat perpaduan dua rasa, yakni bersatunya dan berkomunikasinya manusia dengan sang maha pencipta," jelas Nanang.
Di kompleks tersebut juga terdapat gapura Tengah dan gapura Njaba, serta gapura lain yang menghubungkan ke tempat paling sakral, dimana Makam Sunan Ampel salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Jawa berada. Tempat ini banyak dikunjungi oleh para peziarah.
Tak hanya itu, Masjid Ampel dengan menaranya juga menjadi bagian penting dari kompleks tersebut.
Masjid ini adalah masjid paling tua di antara Masjid-Masjid Wali Songo lainnya yang tersebar di Jawa.
Sebagai tempat tujuan wisata religi, kompleks Makam Sunan Ampel juga menyajikan beragam oleh-oleh bagi para peziarah, di antaranya aneka tasbih. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa